Penerapan Masuk UI Berbayar Munculkan Kemacetan Panjang

Penerapan Masuk UI Berbayar Munculkan Kemacetan Panjang
Suasana kemacetan di depan gerbang masuk UI dari pintu masuk Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (15/7/2019) ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / FMB Senin, 15 Juli 2019 | 14:59 WIB

Depok, Beritasatu.com - Hari ini, Senin (15/7/2019) penerapan masuk kawasan Universitas Indonesia (UI) dengan sistem berbayar dimulai. Akibatnya, muncul kemacetan panjang di Jalan Palakali, Kelurahan Kukusan di mana terletak gerbang UI bagian belakang.

Kemacetan panjang dipicu antrean motor yang mengantre untuk dapat masuk ke UI. Kemacetan dimulai sejak pukul 07.00 hingga siang tadi.

Andy Arifianto, warga Kecamatan Beji yang akan melintas melewati UI merasa kaget dengan kepadatan ini. "Timbul masalah baru sih ini. Macetnya panjang sekali. Mau berangkat kerja yang tadinya cepat jadi tambah lama karena antre masuk gerbang UI saja harus bayar," ujar Andy, Senin (15/7/2019) di Depok, Jawa Barat.

Menurut Andry, dengan adanya gate Secure Parking di mana pengendara harus membayar untuk masuk kawasan UI malah tidak efektif dan menimbulkan kemacetan. Penerapan ini sangat disayangkan oleh Andry.

Senada, warga lainnya Tashdiq Juhari mengatakan, bukan masalah uang yang harus dikeluarkan ketika melintas di kawasan UI, tetapi efek macet yang ditimbulkan akibat adanya kebijakan masuk UI berbayar ini.

"Masa sekelas UI mengatasi masalah parkir begini saja nggak bisa. Sungguh parah macetnya," kata Tashdiq.

Sementara itu, Kepala Kantor Humas dan Keterbukaan Informasi Publik Universitas Indonesia Rifelly Dewi Astuti mengatakan, memang terdapat titik-titik pintu masuk yang berpotensi mengalami penumpukan kendaraan yaitu Pintu Masuk Gerbang Utama, Pintu Masuk Pondok Cina, Pintu Masuk Kukusan Kelurahan dan Pintu Masuk Politeknik Negeri Jakarta.

"Kami mengimbau bagi yang ingin masuk kampus UI dapat memanfaatkan Pintu Masuk sisi Felfest/Mang Engking untuk menghindari penumpukan di area pintu masuk Gerbang Utama UI," ujar Rifelly kepada SP saat dihubungi.

Tentang kemacetan yang terjadi, Rifelly mengatakan, uji coba bagi kendaraan beroda dua/motor, pelaksanaan dilakukan bertahap, khususnya pada jam-jam padat. Gate BORR Utara dan BORR Selatan tidak akan diberlakukan hingga jalur pengendara khusus motor yang hanya ingin melintas telah selesai.

Sedangkan bagi kendaraan beroda empat (mobil) atau lebih, pelaksanaan uji coba diterapkan sepenuhnya. Uji coba sistem parkir berupa pengambilan tiket masuk yang harus disimpan untuk kemudian ditunjukkan kembali saat keluar, namun masih gratis bagi motor.

"Implementasi Sistem Parkir dan Masuk UI merupakan upaya kampus mengendalikan jumlah kendaraan di dalam lingkungan UI sebagai bentuk semangat pengelolaan lingkungan UI yang hijau, ramah lingkungan, aman dan nyaman. Kami juga ingin meningkatkan keselamatan lalu lintas bagi sivitas akademika UI serta kemudahan dalam mengevaluasi keselamatan berlalu lintas," papar Rifelly.

Lebih lanjut, kata Rifelly, diharapkan dengan adanya pengendalian jumlah kendaraan, maka lahan parkir akan dimanfaatkan bagi yang seyogyanya berhak.

Sesuai amanat Rektor UI Muhammad Anis, Rifelly menuturkan, bahwa pendapatan yang diterima melalui penataan sistem parkir dan masuk kampus sepenuhnya harus dimanfaatkan untuk berkontribusi kembali kepada sivitas akademika dan masyarakat.

Pengembalian hasil pendapatan tersebut akan digunakan pada pengembangan fasilitas kampus UI maupun warga di wilayah kampus UI seperti Kelurahan Beji Timur, Pondok Cina, Kukusan dan sekitarnya. Fasilitas dapat berupa pemeliharaan lahan parkir, peningkatan keamanan lingkungan kampus hingga mendanai kebutuhan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

"Sehingga pengelolaan sistem parkir dan masuk UI bisa dapat memberikan keteraturan dan manfaat tidak hanya bagi sivitas akademika UI maupun warga di sekeliling kampus UI Depok," pungkas Rifelly.



Sumber: Suara Pembaruan