Penerapan Sistem ETLE, Pelanggaran Sabuk Pengaman Paling Tinggi

Penerapan Sistem ETLE, Pelanggaran Sabuk Pengaman Paling Tinggi
Kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV) terpasang di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Nova Wahyudi )
Bayu Marhaenjati / FER Senin, 15 Juli 2019 | 15:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, mencatat 3.365 pelanggaran lalu lintas tertangkap kamera sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) selama 2 pekan belakangan di Ibu Kota Jakarta. Adapun jenis pelanggaran paling tinggi adalah tidak memakai sabuk pengaman.

"Selama dua minggu, 3.365 pelanggar. Paling banyak itu masih sabuk keselamatan. Kedua pelanggaran marka. Sabuk keselamatan itu hampir 1.800 dalam dua minggu. Jadi paling banyak masih sabuk keselamatan," ujar Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP M Nasir, kepada Beritasatu.com, Senin (15/7/2019).

Nasir mengatakan, pada prinsipnya penerapan sistem ETLE adalah menciptakan budaya tertib berlalu lintas bagi seluruh pengguna jalan.

"Sebenarnya begini. Prinsipnya pembuatan aturan ETLE ini kan untuk penertiban masyarakat. Jadi harusnya yang kita bentuk itu jiwanya, kesadarannya. Supaya dia ketika melakukan perjalanan di mana pun, maka kesadaran hukumnya harus tinggi. Maka ketika ada safety belt dia gunakan atau misalnya berhenti di garis setop lampu merah itu taat, itu sebenarnya selesai. Tapi memang kesadarannya belum terbentuk," ungkap Nasir.

Nasir menyampaikan, memang saat berada di perempatan jalan atau traffic light, kalangan pengguna jalan sudah cenderung tertib mematuhi marka.

"Di perempatan iya. Di traffic light, pertigaan, persimpangan jalan itu cenderung relatif tertib. Jadi tidak melanggar garis batas setop marka di situ. Tetapi untuk penggunaan sabuk keselamatan itu kan (kamera) check point, jadi bukan di persimpangan dia, ada di sepanjang jalan, jadi itu mungkin (masih) ada kelalaian," kata Nasir.

Nasir menilai, sistem ETLE diharapkan dapat mengubah tingkat kesadaran masyarakat untuk selalu menerapkan konsep tertib berlalu lintas ke depan.

"Justru dengan ETLE ketertiban itu secara sistem akan terbentuk. Kenapa? Tidak bertemunya pelanggar dengan petugas secara konvensional, artinya bukan karena ada polisi dia tidak melalukan pelanggaran tetapi karena sistem. Sebetulnya rambu lalu lintas sama. Marka di jalan itu adalah sistem. Cuma masyarakat mengganggapnya biasa karena nggak ada polisinya atau Dishub. ETLE ini nggak lagi melihat ada polisi atau nggak. Ketika melanggar, maka dia di-capture. Maka sebetulnya sistem itu paling penting," tandas Nasir.



Sumber: BeritaSatu.com