Panitia Kurban Diimbau Tidak Gunakan Kantong Plastik

Panitia Kurban Diimbau Tidak Gunakan Kantong Plastik
Pembagian daging kurban. ( Foto: Antara / Syifa Yulinnas )
Lenny Tristia Tambun / FER Selasa, 23 Juli 2019 | 16:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau seluruh panitia Iduladha di Jakarta tidak menggunakan kantong Plastik Sekali Pakai (PSP). Apalagi, menggunakan kantong plastik kresek hitam pada saat membagikan daging kurban.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Andono Warih mengatakan, kantong plastik merupakan jenis sampah yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alamiah. Ditambah lagi, kantong plastik kresek hitam yang merupakan hasil dari proses daur ulang plastik bekas pakai yang mengandung zat karsinogen dan berbahaya bagi kesehatan.

"Karena itu, kami imbau agar panitia kurban menggunakan wadah yang ramah lingkungan. Seperti daun pisang, daun talas, besek bambu, besek daun kelapa, besek daun pandan atau bahan ramah lingkungan lainnya yang mudah dijumpai di Jakarta,” kata Andono Warih, Selasa (23/7/2019).

Andono berharap Iduladha kali ini menjadi bagian dari kampanye ramah lingkungan. Terlebih lagi, Pemprov DKI Jakarta sedang mengalakkan program pengurangan penggunaan kantong Plastik Sekali Pakai (PSP) di Ibukota bersama organisasi dan komunitas peduli lingkungan.

"Iduladha masih beberapa pekan ke depan, masih ada waktu yang cukup bagi panitia untuk mempersiapkannya dengan baik. Agar lebih thayib ibadah kurbannya," ujarnya.

Andono mengungkapkan, imbauan tidak memakai kantong plastik kresek hitam untuk mewadahi makanan, sudah digaungkan pemerintah sejak lama. Pada tahun 2009, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis peringatan publik tentang bahaya kantong plastik kresek hitam.

"Kantong plastik kresek berwarna, terutama hitam kebanyakan merupakan produk daur ulang dan dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, limbah logam berat, kotoran hewan atau manusia. Selain itu, dalam proses tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahayanya bagi kesehatan," terang Andono Warih.

.



Sumber: BeritaSatu.com