James Riady Beri Bantuan Kesehatan dan Pendidikan untuk Pencari Suaka

James Riady Beri Bantuan Kesehatan dan Pendidikan untuk Pencari Suaka
Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan James Riady (kanan), berdialog dengan pencari suaka di tempat penampungan Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu, 27 Juli 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / JAS Sabtu, 27 Juli 2019 | 18:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan James T Riady, kembali mengunjungi dan berdialog dengan migran pencari suaka, di tempat penampungan Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (27/7/2019). Kedatangannya sekaligus untuk memberikan bantuan kemanusiaan berupa pemeriksaan kesehatan dan pendidikan.

James menilai, para pencari suaka itu memang perlu bantuan kesehatan saat ini, terutama mendeteksi penyakit menular agar penghuni lain di tempat penampungan itu tidak terpapar.

"Ya kita melihat kondisi mereka memang perlu bantuan, utamanya bagaimana mendeteksi penyakit-penyakit yang menular, dan penyakit yang menular itu supaya langsung bisa dicabut, kalau nggak semuanya bisa sakit," ujar James.

James melanjutkan, kedua mendeteksi pengungsi yang mengalami sakit kritis, kemudian ditangani dan mendapatkan perawatan (rawat inap) di Rumah Sakit Siloam.

"Ketiga (menangani) mereka-mereka itu yang sakitnya juga parah. Nah hari ini di belakang ada bus yang membawa 29 pengungsi itu ke rumah sakit untuk ditangani di sana. Jadi Itulah yang kami kerjakan," ungkap James.

James menyampaikan, Rumah Sakit Siloam berkomitmen untuk tetap hadir menjadi bagian memberikan solusi terkait kesehatan di tengah para pengungsi.

"Dan syukur bahwa para dokter dan perawat di Siloam, mereka bersedia melakukan ini semua secara volunteer, dengan sukarela. Jadi ini bukan saya, bukan satu dua orang, tetapi mereka yang memberikan waktu dan tenaga untuk melayani dengan baik. Komitmen Siloam untuk terus berada di sini menjadi bagian daripada solusi untuk kesehatan," kata James.

Selain kesehatan, pendidikan juga merupakan salah satu hal yang diperlukan bagi anak-anak pencari suaka. James mengatakan, Universitas Pelita Harapan berinisiatif membuat sebuah pusat pembelajaran di sebuah ruko dekat tempat penampungan.

"Untuk pendidikan juga ada learning center, itu solusi untuk pendidikan. Ini semuanya sebenarnya dikoordinasi oleh Universitas Pelita Harapan. Kita bayangkan satu keluarga kalau sudah tunggu 3, 5, 7 tahun setiap hari hanya bengong di sana, masalahnya tidak ada solusinya. Mengalami sakit dan sebagainya. Pelan-pelan itu kan sang istri tanya sama suaminya kenapa kita dibawa ke sini, anak-anak kita sudah lima tahun tidak sekolah," jelas James.

Menurut James, para pengungsi itu mengalami tekanan bukan sekadar fisik saja, tapi juga psikososial, mental, emosi, dan sebagainya.

"Jadi kita bisa mengerti, malam-malam mereka sulit tidur karena panas, nyamuk, berisik, karena satu ruangan banyak orang. Jadi mereka memang skeptis, banyak dari mereka skeptis dan takut melangkah dengan salah," katanya.

James menambahkan, selama menunggu kepastian mendapatkan negara yang mau menerima, mereka juga perlu mendapatkan keterampilan supaya bisa mandiri.

"Pada akhirnya, mereka perlu suatu kemandirian. Pada dasarnya, mereka sedang menunggu ke negara yang akan menerima mereka. Itu akan memakan waktu bisa 1, 2, 3 tahun. Nah sementara ini, semoga mereka bisa dapat keterampilan dulu. Dan bisa saja mereka sebagai volunteer, setidaknya di kamp ini kan bisa banyak pekerjaan mungkin bisa mereka kerjakan. Tidak perlu kontraktor luar, umpamanya. Jadi mulai dengan hal-hal yang simpel dulu saja," terangnya.

James menuturkan, Kementerian Luar Negeri telah melakukan pekerjaan yang terbaik dengan terus mendesak negara penandatangan konvensi pengungsi seperti Australia dan lainnya agar mempercepat proses pemindahan pengungsi.

"Lalu DKI, Pemprov DKI, (Gubernur DKI) Pak Anies (Baswedan), telah memerintahkan untuk memberikan yang terbaik, termasuk tempat tinggal di sini, makanan setiap hari, air, listrik, itu semua sudah luar biasa baik. UNHCR juga sudah telah mengerjakan sebisa mungkin yang bisa mereka kerjakan, IOM -Misi Organisasi Internasional untuk Migrasi- juga telah melakukan. Jadi perpaduan ini sudah benar."

"Jadi sekarang tinggal masyarakat siapa yang punya hati ingin merespons, mengatakan Tuhan saya ingin juga mengambil bagian di sini. Siapa yang punya pikiran seperti itu, saya imbau untuk datang ke sini. Supaya mendapatkan gambaran yang berbeda," kata James menambahkan.

"Tidak ada tuh di sini yang kriminal, tidak ada. Saya lihat keluar masuk, dan mereka bisa keluar masuk dengan bebas tapi tidak ada kriminal. Mereka semua orang-orang yang jujur dan ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya," tandasnya.

Sementara itu, Hasan Ali, migran asal Somalia mengatakan, bersyukur atas bantuan kesehatan yang diberikan Rumah Sakit Siloam.

"Sekarang di sini banyak orang yang sakit. Banyak bantuan datang ke kita dari organisasi. Alhamdulillah, kami sampaikan terima kasih kepada organisasi yang membantu kami," kata Hasan.

Hasan meminta, agar pemerintah Indonesia, UNHCR dan organisasi lain mau terus membantu mereka. "Ya, semua organisasi dari UNHCR, pemerintahan, dari organisasi yang lain silakan bantu. Kami mau mereka terus membantu. Masih ada anak yang sakit," ucap Hasan.

Hasan mengatakan, dirinya dan pengungsi lain hanya berharap bisa hidup layak dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Kami berharap bisa hidup normal. Kami sekarang tidak bisa kerja di sini, di Indonesia. Kami di sini sementara. Orang migran tidak bisa bekerja. kami mau kalau bisa bekerja di Indonesia. Ada yang masih muda bisa bekerja, tetapi tidak bisa. Kami tengah menunggu ditransfer ke negara lain," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com