Dirut Transjakarta Pastikan Bus Non BRT Pasang TOB Tahun Ini

Dirut Transjakarta Pastikan Bus Non BRT Pasang TOB Tahun Ini
Ilustrasi ( Foto: Suara Pembaruan/Ruht Semiono )
Lenny Tristia Tambun / CAH Selasa, 30 Juli 2019 | 15:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Seorang penumpang bus Transjakarta bernama Jonminofri Nazir menyampaikan keluhannya terkait pembayaran manual di dalam bus ketika menaiki bus non bus rapid transit (BRT) atau feeder (penghubung).

Keluhan yang dimuat dalam akun facebook pribadinya ini, menjadi viral. Apalagi adanya pernyataan pembayaran manual melalui tiket kertas di dalam bus dikarenakan mesin electronic data capture (EDC) tidak ada.

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Utama (Dirut) PT Transjakarta, Agung Wicaksono mengatakan semua bus non BRT akan dilengkapi dengan reader untuk tap on bus (TOB) tahun ini. Pengadaan reader TOB sedang dilakukan dan ditargetkan pada akhir tahun ini semua reader Tap On Bus akan terpasang diseluruh bus non BRT.

“Hal ini (ketergantungan mesin EDC), diharuskan berhenti di tahun ini. Semua bus non BRT sedang dipasangi reader untuk Tap On Bus (TOB). Jadi tak ada lagi ketergantungan pada mesin EDC dari bank. Tak ada lagi pembayaran tunai dengan tiket kertas, yang artinya semua pelanggan Transjakarta juga harus punya kartu bank,” kata Agung Wicaksono, Selasa (30/7/2019).

Dijelaskannya, sejak dulu, pembayaran Transjakarta hanya menggunakan kartu uang elektronik (KUE) dari bank dengan tapping di gate masuk halte Transjakarta. Sistem pembayaran ini telah digunakan di rute BRT atau di dalam koridor bus Transjakarta.

“Jadi tidak ada pembayaran tunai di atas bus dalam rute bus BRT. Semua menggunakan kartu uang elektronik yang dikeluarkan berbagai bank penerbit,” ujar Agung Wicaksono.

Sementara untuk memudahkan warga mengakses bus Transjakarta di koridor BRT, maka pihaknya telah memperbanyak rute bus Transjakarta di koridor non BRT atau di luar jalur bus Transjakarta.

Karena dengan semakin banyaknya rute non BRT, maka akan semakin lebih banyak kawasan yang bisa dijangkau layanan transportasi publik.

“Nah untuk rute non BRT, haltenya tidak ada didalam koridor atau jalur bus Transjakarta. Jadi pembayarannya tidak bisa tapping di halte, melainkan di dalam bus,” terang Agung Wicaksono.

Mekanisme pembayaran yang paling memungkinkan untuk di dalam bus yang berada di rute non BRT adalah seharusnya dengan menggunakan TOB. Tidak lagi menggunakan mesin EDC.

Tetapi kenapa saat ini pembayaran masih menggunakan mesin EDC, Agung Wicaksono menerangkan karena dulu PT Transjakarta tidak melakukan investasi sendiri untuk sistem pembayarannya. Sehingga bergantung pada bank penerbit kartu uang elektronik.

“Karena semua sistem yang menginstalansi dari bank, akibatnya Transjakarta jadi tergantung pada bank penerbit. Termasuk tergantung pada ketersediaan mesin EDC. Dan satu mesin EDC hanya bisa membaca satu jenis kartu bank tertentu,” papar Agung Wicaksono.

Dampak lainnya, ketersediaan mesin EDC ini sangat bergantung pada suplai dari bank penerbit. Padahal saat ini, bus Transjakarta yang berada di rute non BRT sudah mencapai 900 unit.

Artinya, kalau masih memakai mesin EDC, maka dibutuhkan 900 mesin EDC. Jumlah ini cukup sulit dipenuhi para bank penertib kartu uang elektronik. Karena keterbatasan mesin EDC, lanjutnya, maka disediakan tiket kertas untuk bukti pembayaran.

“Jadi kalau ada yang khawatir tiket kertas membuka peluang korupsi, jangan berpikir terlalu jauh. Transjakarta adalah perusahaan layanan publik yang tangan setiap orangnya harus bersih, tak boleh dikotori oleh uang kecil maupun besar. Ketersediaan EDC dikendalikan oleh bank, karena itu, kita ingin terlepas dari ketergantungan itu,” tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com