PT MRT Belajar Teknologi Ketahanan Gempa dari Seoul Metro

PT MRT Belajar Teknologi Ketahanan Gempa dari Seoul Metro
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar (kedua kanan), dan CEO Seoul Metro, Taeho Kim (kedua kiri) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman di kantor PT MRT Jakarta, Wisma Nusantara, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia )
Lenny Tristia Tambun / JAS Jumat, 16 Agustus 2019 | 10:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menjalin kerja sama dengan Seoul Metro, salah satu operator kereta bawah tanah di Korea, PT MRT Jakarta belajar teknologi ketahanan gempa. Sehingga ketika terjadi gempa di Jakarta seperti beberapa waktu lalu, PT MRT Jakarta dapat bergerak dengan cepat untuk mengantisipasi musibah tersebut.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P Sabandar mengatakan terdapat tga teknologi yang dipelajari pihaknya dari Seoul Metro. Yaitu teknologi pengeksplorasian dalam pengembangan pengoperasian dan pengelolaan pusat kendali operasi (OCC).

Selanjutnya, teknologi pengembangan kemampuan perawatan rolling stock dan depo; pengembangan pengetahuan atas kemampuan SAMBA (Smart Automatic Mechanical Big data Analysis-system) dan smart station. Serta, teknologi pengelolaan automatic fare collection (AFC).

“Jadi ada tiga teknologi perkeretaapian yang akan kita pelajari dari Seoul Metro. Pertama, SAMBA. Jadi mereka sudah menjalankan sistem perkeretaapian dengan menggunakan big data. MRT Jakarta sedang menuju kesana. Jadi kita juga sedang eksplore soal penggunaan big data dan mengembangkan digital platform,” kata William Sabandar, Jumat (16/8/2019).

Teknologi kedua yang akan dipelajari adalah smart station. William Sabandar menjelaskan dengan sistem smart station ini dapat memastikan pihaknya bisa mengontrol seluruh sistem secara otomatis.

“Jadi ketahuan kalau ada elevator, eskalator yang tidak berfungsi. Jadi kita pakai sistem digital,” ujar William Sabandar.

Teknologi ketiga, adalah AFC. Melalui teknologi ini akan dipasang sensor di atas dan di bawah kereta. Sehingga pengecekan terhadap kondisi rel kereta maupun sistem paneling tidak lagi manual.

“Kalau sekarang kan, kita melakukan pengecekan terhadap kondisi rel kereta maupun seluruh sistem paneling dengan manual dan tenaga manusia. Dan dengan AFC ini, maka sudah pakai manusia lagi. Tapi ditempelkan elemennya di atas kereta maupun di bawah kereta. Itu yang mereka pakai selama ini,” terang William Sabandar.

Ketiga teknologi ini, menurut William Sabandar, memiliki banyak manfaat untuk peningkatan kualitas pelayanan MRT Jakarta. Terutama dari sisi keamanan penumpang yang menjadi prioritas utama PT MRT Jakarta.

Salah satu manfaat ketiga teknologi ini adalah PT MRT Jakarta akan lebih cepat dan reaktif dalam mengantisipasi bencana gempa. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Jakarta.

“Salah satu manfaatnya ya itu. Misalnya kegempaan. Itu sudah kami lakukan, tetapi teknologi ini nantinya akan membantu kita jika terjadi gempa, kita lebih siap,” tutur William Sabandar.

Sayangnya ketiga teknologi ini belum dapat mengantisipasi jika terjadi blackout atau pemadaman listrik. “Kalau mati listrik kan hubungannya dengan PLN. Tapi yang bisa kita siapkan adalah belajar dari mereka (Seoul Metro) kalau menghadapi situasi seperti itu (gempa dan blackout), hal-hal apa saja yang bisa kita siapkan,” terang William Sabandar.



Sumber: BeritaSatu.com