Anies Putuskan Lelang ERP Diulang

Anies Putuskan Lelang ERP Diulang
Ilustrasi "electronic road pricing" (ERP). ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito de Saojoao )
Lenny Tristia Tambun / JAS Jumat, 16 Agustus 2019 | 11:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Setelah mendapatkan pendapat hukum (legal opinion) dari Kejaksaan Agung (Kejagung) bahwa proses lelang jalan berbayar elektronik (electronic road pricing-ERP) harus diulang, maka Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memutuskan untuk menjalankan pendapat hukum tersebut.

“Dari pihak kejaksaan sudah mengirimkan surat. Kejagung menyampaikan bahwa proses tender harus diulang. Dan kita harus melakukan ulang. Yang kemarin itu selesai. Sekarang kita mulai babak baru,” kata Anies Baswedan, Jumat (16/8/2019).

Sebelum proses lelang ERP diulang kembali, Anies Baswedan mengungkapkan saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI sedang melakukan pembahasaan terkait penggunaan teknologi yang paling tepat untuk mengatur retribusi ERP. Pembahasan dilakukan dengan Ditjen Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informasi.

“Kami sedang bahas bersama menyangkut penggunaan teknologi yang paling tepat untuk mengatur pajak kemacetan atau ERP. Karena dengan era sekarang, maka kita sudah bisa menggunakan aplikasi yang menempel di handphone, yang menempel di kendaraan yang melihat,” terang Anies Baswedan.

Dijelaskannya, penerapan ERP tidak hanya diberlakukan pada satu atau dua ruas jalan, tetapi bisa banyak ruas jalan. Lalu waktu operasionalnya bisa diperluas dari rencana awalnya.

“Nah itu sekarang dibahas dengan Dirjen Aptika dan Kepala Dinas Perhubungan DKI. Sekarang fase pembahasan. Nanti ketika sudah ada awal temuan, kami akan sampaikan,” ujar Anies Baswedan.

Menurut Anies Baswedan, teknologi yang rencananya akan digunakan yakni gate (gerbang) ERP dan OBU (on board unit) sudah ketinggalan zaman.

Dengan teknologi gate dan OBU, saat mobil melintasi jalan yang menggunakan sistem ERP, akan ada bunyi setelah gantry melakukan pemindaian terhadap kendaraan. Sistem itu akan memindai OBU dan pelat kendaraan. Dan langsung memotong saldo yang berada dalam OBU itu. Maka, biasanya OBU dipasang di dashboard depan atau spion mobil sehingga mudah dipindah oleh kamera yang berada di gantry.

“Sekarang pemanfaatan satelit, BTS dan teknologi baru itu sudah banyak. Jangan sampai DKI mengadopsi konsep ERP yang masih menggunakan teknologi yang lama. Yang kita kenal sebagai gawang, kendaraan masuk di tempat-tempat tertentu,” papar Anies Baswedan.

Itu sebabnya, Pemprov DKI bekerja sama dengan Ditjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informasi. Untuk memastikan teknologi yang digunakan dalam penerapan ERP adalah teknologi yang terbaru dan memudahkan bagi warga.

Dengan demikian, maka Pemprov DKI akan merevisi Pergub DKI Nomor 25 tahun 2017 tentang Pengendalian Lalu Lintas Dengan Pembatasan Kendaraan Bermotor Melalui Sistem Jalan Berbayar Elektronik.

“Nanti, kalau sudah ada pembicaraan, itu baru kita lakukan langkah hukumnya. Sekarang kita sedang membanding-bandingkan teknologinya. Seperti apa nanti akan dibuat aturannya dalam bentuk peraturan baru, kita akan melakukannya,” tukas Anies Baswedan.

Seperti diketahui, Pergub DKI 25 tahun 2017 diterbitkan untuk mervisi Pergub DKI Nomor 149 tahun 2016 tentang Pengendalian Lalu Lintas Jalan Berbayar Elektronik atau Electronic Road Pricing (ERP).

Memang sebelum direvisi, Pergub No 149/2016 menentukan sistem ERP diterapkan dengan teknologi Dedicated Short Range Communication (DSRC) 5,8 GHz dengan kamera LPR.

Menerima masukan semua pihak, termasuk KPPU sendiri, pasal 8 ayat 1 huruf C yang menyebutkan penerapan sistem ERP hanya menggunakan metode dedicated short range communication (DSRC) direvisi, maka Pemprov DKI mengubah ayat tersebut, menjadi tak lagi mencantumkan teknologi, melainkan mencantumkan kriteria teknologi yang akan diterapkan. Salah satunya, sudah teruji dan yang terbaik.

Namun, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melayangkan surat kepada Pemprov DKI. Dalam surat tersebut, KPPU meminta Pemprov DKI merevisi kembali Pergub tentang ERP yang mengharuskan teknologi yang digunakan sudah teruji.



Sumber: BeritaSatu.com