Polres Jakbar Ubah Strategi dalam Pemberantasan Narkoba

Polres Jakbar Ubah Strategi dalam Pemberantasan Narkoba
Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Polisi Hengki Haryadi, di Mapolda Metro Jaya. ( Foto: be )
Bayu Marhaenjati / BW Senin, 19 Agustus 2019 | 14:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polres Metro Jakarta Barat mengubah strategi pemberantasan narkotika dengan menjadikan bandar atau produsen sebagai sasaran atau target operasi. Selama kurun waktu 2018 hingga pertengahan 2019, tiga pabrik narkotika dengan kurang lebih 15 tersangka berhasil diungkap.

Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Polisi Hengki Haryadi mengatakan, perubahan strategi itu dilakukan dalam memerangi narkoba sehingga dapat mengubah stigma Jakarta Barat sebagai surga narkotika.

"Dulu Jakarta Barat memiliki stigma surga narkoba. Karena itu kita ubah strategi di mana kami menggunakan bukan target yang jangka pendek, artinya kita merubah sasaran sampai ke hulu, pengedar, dan produsen yang kita jadikan target operasi," ujar Hengki, di Mapolda Metro Jaya, Senin (19/8/2019).

Hasilnya, kata Hengki, 80 persen pengungkapan merupakan pengedar, serta tiga pabrik narkotika digerebek, di Jakarta dan sekitarnya.

"Kita menggunakam strategi, kita ungkap pengedar-pengedar atau produsen, bahkan sampai daerah luar Jakarta Barat, artinya ada kaitan dengan peredaran narkoba di Jakarta Barat. Kita ungkap tiga pabrik, pengedar hampir 80 persen kita ungkap. Untuk tahun 2019, kita ungkap 186 kilogram sabu-sabu," ungkap Hengki.

Menurut Hengki, Polres Metro Jakarta Barat membentuk tim khusus terkait pemberantasan narkotika lebih banyak dibandingkan jajaran Polres lain.

"Artinya, melihat keprihatinan narkoba dan kejahatan jalanan ternyata sangat erat kaitannya. Sembilan dari 10 pelaku-pelaku kejahatan jalanan apakah itu jambret, pencurian dengan kekerasan, dan kejahatan remaja seperti geng motor, hampir semuanya terlibat narkoba dengan ciri-ciri mereka hilang empati, hilang rasa takut dan juga hilang semangat. Karena itu, kami evaluasi apabila terjadi kejahatan jalanan hampir semuanya terpengaruh narkoba," kata Hengki.

Beranjak dari keprihatinan itu, tegas Hengki, Polres Metro Jakarta Barat membentuk tim khusus dan mengubah strategi dengan target bandar.

"Alhamdulillah kita berhasil menekan peredaran narkoba di Jakarta Barat, dengan menggunakan strategi preventif straight, serangan pendahuluan sebelum sampai ke Jakarta Barat, kita ungkap. Karena apabila itu barang sudah sampai ke konsumen akan lebih susah lagi untuk penangkapannya," kata Hengki.

Salah satu pengungkapan besar yang dilakukan jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat adalah penggerebekan pabrik sabu-sabu kualitas tinggi yang dibuat dari bahan obat sesak napas, di Perumahan Metland, Jalan Kateliya Elok II, Blok H3, No 12B, Cipondoh, Kota Tangerang, medio Agustus 2018 lalu. Tersangkanya atas nama Pengchun.

"Kita ungkap dari bandarnya dari produsennya. Kita temukan modus baru sebagai contoh ada satu pabrik yang bisa memproduksi sabu-sabu dengan kualitas lebih tinggi dari impor, tetapi dengan bahan lokal, dari bahan-bahan obat sesak napas. Contoh dari Laboratorium Forensik Narkoba Mabes, itu justru lebih bagus dari sabu-sabu yang impor. Mereka buat dari bahan obat-obatan sesak napas dan sebagainya, kemudian diekstrak memperoleh kualitas yang tinggi dibanding impor. Jadi sangat berbahaya," jelas Hengki.

"Kemudian, di Cibinong, kita bisa ungkap ekstasi 3 in 1, dengan bahan-bahan yang sangat berbahaya dan beredar di Jakarta Barat. Termasuk yang ada di Kampung Ambon dan terakhir di Kalideres, mereka bisa memproduksi sampai dengan 15 kilogram per bulan. Karena itu kita akan gencarkan dengan kerja sama dengan masyarakat, stakeholder, dalam memberikan efek jera kepada pelaku tindak pidana," tambahnya.

Terakhir, kata Hengki, Polres Jakarta Barat menangkap tersangka Cui Ming warga negara Tiongkok, ketika mengambil paket sabu asal Amerika Serikat seberat 6 kilogram, di Kantor Pos Daan Mogot, Jakarta Barat, awal Mei 2019 lalu. Pada saat pengembangan, polisi kembali menangkap Dasuki (42) dan Budi Suprayitno (52) -selaku kurir-, serta Li Xiufen (22) dengan barang bukti 10 kilogram sabu-sabu, di Tebet, Jakarta Selatan. Total, barang bukti yang disita sebanyak 16 kilogram sabu-sabu asal negeri paman sam.

"Terakhir kita kerja sama dengan Amerika kita bisa mengungkap sindikasi baru, modus baru di mana sabu-sabu ini dikirim tidak melalui Malaysia, Myanmar dan sebagainya, tetapi dari negara Amerika yang tidak dicurigai sebagai negara produsen. Kita nanti bulan November akan diundang ke Los Angeles bersama satgas untuk membahas ini lebih lanjut karena banyak sabu-sabu, narkoba ini dari kartel besar yang ada di sana yakni, gabungan dari Meksiko, Taiwan, Tiongkok yang dikirim ke Indonesia. Artinya, kita tidak bisa bekerja sendiri, kita juga bekerja sama dengan Bea Cukai, BNN, dan kejaksaan. Artinya kita mengungkap kasus ini dengan tidak melanggar hukum formil, kita ungkap di luar Jakarta Barat sebelum mereka masuk," tandasnya.



Sumber: Suara Pembaruan