PT NWA Minta Pemkot Bekasi Kirim Surat ke Menteri ESDM Usulkan Pembelian Listrik

PT NWA Minta Pemkot Bekasi Kirim Surat ke Menteri ESDM Usulkan Pembelian Listrik
Ilustrasi proyek pembangkit listrik tenaga sampah di Bantar Gebang, Bekasi. ( Foto: Antara )
Mikael Niman / JAS Rabu, 21 Agustus 2019 | 11:04 WIB

Bekasi, Beritasatu.com – Pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Peltas) Sumurbatu, PT Nusa Wijaya Abadi (NWA), menegaskan mesin pembangkit listrik yang telah dibangun sejak 2016 lalu, mampu menghasilkan daya listrik 1,5 megawatt (MW) per jam. Selama ini, terjadi beda persepsi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terkait uji coba pembangkit listrik dan perjanjian jual beli listrik ke PT PLN (Persero).

“Kami optimistis, mesin pembangkit kami menghasilkan listrik 1,5 MW, sesuai perjanjian kerja sama,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Nusa Wijaya Industries Group, Teddy Sujarwanto, Rabu (20/8/2019).

PT NWA merupakan anak perusahaan Nusa Wijaya Industries Group, yang telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan Pemkot Bekasi, untuk mengolah sampah menjadi energi listrik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang.

Teddy menjelaskan, untuk membuktikan bahwa perusahaannya telah menghasilkan listrik sebesar 1,5 MW per jam, harus terlebih dahulu disalurkan atau disambungkan kabel dari Peltas miliknya ke jaringan PLN, untuk membuang beban listrik sebesar 1,5 MW.

Dia mengibaratkan, alat meter listrik (kilo watt hour/KWh) di rumah-rumah yang tersambung dari tiang listrik PLN, dapat dibuktikan memiliki daya listrik setelah tersambung ke lampu pijar, televisi, kulkas, mesin pompa, AC, dan sebagainya. Selama kabel dari KWh belum tersambung ke alat-alat tersebut, tidak diketahui memiliki daya listrik.

“Begitu juga dengan mesin pembangkit listrik kami, jaringan atau kabelnya disambungkan ke PLN untuk mengetahui listrik kami sebesar 1,5 MW. Cara lain, dengan menyewa pabrik yang memiliki mesin pabrik yang membutuhkan daya listrik sebesar 1,5 MW agar dapat membuktikan, bahwa mesin pembangkit kami telah menghasilkan listrik. Beban listrik dari mesin pembangkit harus disalurkan ke PLN atau mesin pabrik yang besar, ini yang belum dilakukan,” bebernya.

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, Pasal 10 menyebutkan wali kota (kepala daerah) mengusulkan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memberikan penugasan pembelian tenaga listrik Peltas oleh PLN dengan melampirkan dokumen antara lain profil perusahaan, lokasi dan kapasitas Peltas, rencana commercial operation date (COD), surat penetapan pemenang Peltas, dalam hal ini PT NWA.

Selanjutnya, Menteri ESDM menugaskan PLN untuk membeli tenaga listrik. PLN kemudian, menerjunkan tim untuk melakukan studi kelayakan penyambungan.

“Tahapannya masih panjang, tim PLN akan melakukan sertifikasi melalui penyambungan. Kalau lulus, dilanjutkan dengan perjanjian jual beli listrik oleh PLN. Tahapan ini belum dilakukan, surat mengusulkan kepada Menteri ESDM saja belum dilakukan, bagaimana kami mau membuktikan mesin pembangkit kami berfungsi?” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan