Sering Terjadi Kecelakaan, KAI Bakal Tutup Semua Perlintasan Sebidang Liar

Sering Terjadi Kecelakaan, KAI Bakal Tutup Semua Perlintasan Sebidang Liar
Kondisi bus Arga Mas yang dihantam kereta di perlintasan kereta api di Karawang. ( Foto: Antara / Ali Khumaini )
Mikael Niman / CAH Selasa, 27 Agustus 2019 | 07:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT KAI Daop 1 Jakarta menyesalkan musibah kecelakaan (laka) kereta api (KA) Argo Parahyangan di pelintasan sebidang liar, Senin (26/8/2019). Saat itu, bus melintas di perlintasan sebidang, tepatnya di petak Jalan Karawang - Klari KM 67+2, ‎bus mengalami mogok dihantam KA Argo Parahyangan.

"Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa namun sejumlah perjalanan KA jarak jauh dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen serta sebaliknya mengalami gangguan," ujar ‎Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/8/2019).

Dia mengatakan, dampak terhadap insiden tersebut ribuan pengguna jasa mengalami keterlambatan perjalanan KA dari dan menuju wilayah Daop 1 Jakarta. "Kecelakaan tersebut juga menyebabkan rusaknya sarana dan prasarana jalur rel di lokasi kejadian," bebernya.

Agar tidak terulang kembali, kata Eva, keberadaan pelintasan sebidang liar segera ditutup secara permanen. "Meskipun bukan tanggung jawab PT KAI (Persero) namun untuk keselamatan dan keamanan PT KAI Daop 1 Jakarta, dengan segera melakukan penutupan pelintasan tersebut secara permanen," tuturnya.

Tindakan penutupan tersebut dilakukan PT KAI sesuai amanah UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Pasal 94 yang menyebutkan antara lain, untuk keselamatan perjalananan kereta api dan pemakai jalan, pelintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup. Lalu, penutupan pelintasan sebidang sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah.

Selain itu, kewajiban pengguna jalan juga termuat dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 114 menyebutkan bahwa pada pelintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dulu melintas rel karena pada dasarnya, pintu pelintasan itu bukanlah rambu lalu lintas melainkan alat bantu untuk mengamankan perjalanan KA sehingga sudah seharusnya para pengguna jalan raya menyadari akan hal tersebut untuk keselamatan.

Sebagai informasi, kata Eva, total pelintasan yang ada di wilayah Daop 1 Jakarta sebanyak 463 pelintasan, yang terdiri dari 162 pelintasan sebidang yang dijaga dan 301 pelintasan sebidang liar.

"Sebanyak 59 pelintasan sudah dibuat tidak sebidang melalui fasilitas flyover dan underpass," katanya.

Sejauh ini, PT KAI juga telah berupaya dengan kerja keras melakukan penutupan sejumlah pelintasan sebidang untuk keselematan bersama namun proses tersebut kerap mendapatkan perlawanan dari masyarakat sekitar perlintasan.

"Dengana ‎kejadian ini, kami berharap sejumlah area yang masih terdapat pelintasan sebidang dapat segera disolusikan melalui program penutupan pelintasan sebidang atau pembuatan jalur tidak tidak sebidang seperti flyover dan underpass oleh pihak-pihak terkait agar tidak menimbulkan risiko yang berdampak pada keselamatan pengendara dan perjalanan KA. Diharapkan masyarakat juga memberikan dukungan pada kegiatan tersebut demi keselamatan bersama.

Sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Pasal 91 yang menyebutkan bahwa perpotongan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat tidak sebidang, dengan pengecualian hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan tetap menjamin keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta api dan lalu lintas jalan.



Sumber: Suara Pembaruan