Pemkab Bogor Sanksi Dua Pabrik Cemari Sungai Cileungsi

Pemkab Bogor Sanksi Dua Pabrik Cemari Sungai Cileungsi
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor melakukan pemeriksaan saluran buang limbah pabrik MGP di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Kamis 29 Agustus 2019. ( Foto: istimewa )
Vento Saudale / CAH Jumat, 30 Agustus 2019 | 11:05 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor melakukan tindakan tegas berupa penutupan permanen saluran pembuangan air limbah industri tanpa izin. Petugas menemukan dua pabrik melakukan pembuangan limbah sembarang.

Dua pabrik yakni PT MGP di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor, bergerak di bidang usaha pengolahan plastik dan PT. HTI, terletak Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, bidang usaha suku cadang logam.

Sekretaris DLH Kabupaten Bogor, Anwar Anggana yang melakukan sidak, Kamis (29/8/2019) kemarin menuturkan, sanksi dilakukan dengan penutupan permanen saluran limbah dua pabrik itu.

“Sebelumnya pada 1 Oktober 2018 kedua pabrik ini sudah disegel DLH Kabupaten Bogor. Namun hingga kini belum juga memenuhi kewajibannya dalam pengelolaan lingkungan hidup,” paparnya, Jumat (30/8/2019).

Selanjutnya kedua perusahaan itu akan diproses sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku. Anwar pun memastikan, tindakan ini akan diikuti penindakan terhadap beberapa kegiatan industri lain sesuai jadwal yang sudah ditetapkan dan saat ini DLH sudah diperkuat Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH).

"Bila pabrik pencemar lingkungan ini masih membandel tentunya akan dijerat pasal 1 angka 14 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan ancaman maksimal penjara 3 tahun dan denda Rp3 miliar, " jelasnya.

Sementara, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) Puarman, yang ikut hadir dalam sidak tersebut memberikan apresiasi atas sikap tegas DLH Kabupaten Bogor.

"Kami dukung tindakan tegas DLH. Ia pun berharap agar tindakan dan pemberian sanksi terus diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang diduga masih melakukan pencemaran Sungai Cileungsi" tandasnya.

Sebelumnya, Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya masih menemukan banyak ikan sapu-sapu yang mati akibat keberadaan air di Sungai Cileungsi tercemar limbah perusahaan. Bahkan warna air berubah menjadi hitam pekat akibat pencemaran tersebut.

"Dampak pencemaran sungai, biasanya lebih terasa di musim kemarau, dan karena itu kami melakukan sidak pada hari Selasa kemarin,” kata Kepala Ombudsman Jakarta Teguh Nugroho.

Dia mengatakan, sidak tersebut merupakan tindak lanjut atas tindakan korektif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor terhadap LAHP yang diberikan pihak ombudsman pada akhir tahun 2018.

Dalam observasi itu Ombudsman menyisir beberapa titik yang ditenggarai sebagai awal mula terjadinya pencemaran, yaitu di jembatan Wika, Jembatan Narogong di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi, serta Jembatan Pocong.

Di titik tersebutlah, ratusan ikan sapu-sapu terkapar, padahal biasanya tahan terhadap polutan dari pada limbah. Ini menunjukkan, pencemaran di Sungai Cileungsi yang berasal dari limbah kimia pabrik di sekitar wilayah tersebut sudah terlalu berat.

 

 



Sumber: BeritaSatu.com