Pertamina Janjikan Ganti Rugi Petambak dan Nelayan di Muaragembong

Pertamina Janjikan Ganti Rugi Petambak dan Nelayan di Muaragembong
Nelayan di Muaragembong, Kabupaten Bekasi memilih menghentikan kegiatan melaut semenjak tumpahan minyak Pertamina meluas hingga ke pesisir Kabupaten Bekasi. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Mikael Niman / FER Sabtu, 31 Agustus 2019 | 19:19 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Pertamina berjanji akan melakukan ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan saat terjadi ‎tumpahan minyak di area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang, yang meluas hingga ke wilayah Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Camat Muaragembong, Junaefi, mengatakan, pihaknya telah mendata jumlah petambak dan nelayan yang terdampak tumpahan minyak tersebut. Berdasarkan data, ada sekitar 2.200 petambak dan nelayan yang terdampak tumpahan minyak di wilayah Muaragembong.

"Ada sekitar 2.200 petambak dan nelayan yang terdampak dari Desa Pantaibakti dan Pantaibahagia," ujar Junaefi, Sabtu (31/8/2019).

Junaefi merincikan, para petambak dan nelayan tersebut berasal dari Desa Pantaibakti ada 700 orang, dan Desa Pantaibahagia ada 1.500 orang, yang akan diberikan uang tunai.

"Sudah disepakati, bentuk ganti ruginya kemungkinan berupa uang tunai, tapi besaran nominalnya belum tahu," tuturnya.

Hingga kini, kata Junaefi, tumpahan minyak itu sesekali masih terlihat di pesisir pantai Muaragembong, meskipun sudah dilakukan pembersihan setiap hari. Dampak tumpahan minyak itu, sejumlah ikan dan udang di tambak, banyak yang mati. Petambak tidak ingin kerugian semakin besar dengan memanen udang lebih awal. Sedangkan, hasil tangkapan nelayan berkurang.

"Dampaknya, udang dan ikan milik petambak pada mati, tangkapan ikan nelayan juga berkurang drastis. Ini yang menjadi alasan kita mengajukan ganti rugi," kata Junaefi

Hingga kini, pembersihan tumpahan minyak masih terus dilakukan oleh Petamina bersama TNI dan masyarakat.‎ Masyarakat yang membantu pembersihan mendapat bayaran Rp 100.000 tiap harinya.

Sementara itu, Ali, salah satu nelayan Muaragembong berharap agar tumpahan minyak benar-benar hilang sehingga para nelayan kembali melaut dengan hasil tangkapan yang lebih banyak lagi.

"Kondisi sekarang, kalau melaut, hanya bisa mendapat ikan paling banyak 1 kilogram. Sebelumnya, kami bisa mendapatkan 6 kilogram hingga 7 kilogram ikan, udang, hingga ranjungan," imbuh Ali.

 



Sumber: Suara Pembaruan