UNHCR Upayakan Bantu Kebutuhan Darurat Pengungsi

UNHCR Upayakan Bantu Kebutuhan Darurat Pengungsi
Ratusan pencari suaka, masih bertahan di tempat penampungan sementara, Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (5/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / FER Kamis, 5 September 2019 | 21:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), mengatakan akan berupaya dengan segala sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan darurat pengungsi pencari suaka, di tempat penampungan sementara, di Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot, Kalideres, Jakarta Barat. Bantuan uang tunai bukan satu-satunya solusi, dan Komisioner Tinggi PBB untuk pengungsi itu akan mencari cara agar pencari suaka dapat mengurus dirinya sendiri.

"UNHCR mengupayakan yang terbaik dengan segala sumber yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan darurat pengungsi. Kita juga menempuh segala cara untuk membantu mereka mengatur diri mereka sendiri selama mereka ada di sini. Pemberian bantuan cash bukan satu-satunya solusi, tapi kita juga mencari cara lain di mana pengungsi bisa mengurus diri mereka sendiri melalui program-program yang sedang kami garap dengan pemerintah," ujar Kepala Perwakilan UNHCR Indonesia, Thomas Vargas, di Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (5/9/2019).

Dikatakan Thomas, saat ini pengungsi memang sedang melalui situasi yang sulit. "Dan, kita berusaha sebaik mungkin dalam berkolaborasi dengan pemerintah dan partner-patner kita, untuk mencoba memenuhi kebutuhan yang paling mendesak bagi pengungsi, dan memberikan cara agar mereka bisa mengurus diri mereka sendiri," ungkapnya.

Menurut Thomas, pengungsi telah melalui perjalanan yang sangat berat dan sulit di masa lalu. Mereka khawatir akan masa depan mereka.

"Sebelum sampai di Indonesia perjalanan mereka sangat sulit, dan karenanya mereka sangat berterima kasih atas kebaikan hati dan keramah tamahan pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia. Mereka berterima kasih karena mereka diperbolehkan tinggal di Indonesia, sampai ada solusi jangka panjang yang ditemukan untuk mereka," katanya.

Menyoal mengapa para pencari suaka ada yang sudah 5 sampai 7 tahun tinggal di Indonesia dan belum ditempatkan di negara ketiga, Thomas menuturkan, UNHCR sudah berusaha sekuat mungkin memberikan advokasi, namun semua kembali kepada negara ketiga yang mau menerima mereka.

"UNHCR berusaha sekuat mungkin untuk mengadvokasi solusi, termasuk salah satunya adalah agar negara-negara mau menerima pengungsi untuk penempatan di negara ketiga. Namun hal itu bergantung dari apa yang ditawarkan oleh negara ketiga," jelasnya.

Thomas menambahkan, UNHCR sudah secara agresif mengadvokasi agar negara ketiga memberikan resettlement. Karena memang hal itu adalah salah satu cara perlindungan yang penting bagi pengungsi.

"Jadi kami berusaha secara agresif untuk memastikan resettlement sebagai perlindungan diberikan oleh negara-negara tersebut. Sayangnya, saat ini memang sedang ada global refugee crisis. Lebih dari 70 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan 25 juta orang diantaranya adalah pengungsi. Kami bekerja erat dengan semua pemerintah untuk mencari solusi apakah pulang ke negara mereka kalau memungkinkan atau untuk ditempatkan ke negara ketiga, di negara-negara yang mau menerima mereka," katanya.

Thomas menyampaikan, menunggu sampai ada negara ketiga menawarkan resettlement, UNHCR akan terus bekerja sama dengan negara-negara yang memberikan perlindungan sementara seperti Indonesia, dan mencari cara agar pengungsi bisa mengurus diri mereka sendiri.

"Jadi belum bisa dipastikan sampai kapan mereka ada di Indonesia. Kami tidak dapat memprediksi. Tapi yang bisa kami katakan, kami berupaya sebaik mungkin untuk meyakinkan pemerintah negara lain untuk menerima pengungsi dalam resettlement," jelasnya.

Ihwal bagaimana kalau pengungsi di penampungan Kalideres kembali ke Kantor UNHCR, di Kebon Sirih, Thomas menuturkan, intinya pihaknya akan mencoba terus membantu sebaik mungkin.

"Kita mencoba sebaik mungkin untuk membantu pengungsi sesuai dengan kebijakan pemerintah dan keputusan pemerintah. Pengungsi memiliki hak untuk menyuarakan konsern mereka, dan memberitahukan kami apa yang mereka alami. Kita di sini untuk mendengarkan mereka, dan kita mencoba sebaik mungkin untuk menolong mereka. Namun hal ini harus dilakukan sesuai dengan hukum dan undang-undang di Indonesia, dan peraturan di Jakarta. Mereka tidak bisa berdemonstrasi lebih dari jam 6 (18.00 WIB) karena itu akan menyalahi aturan yang ada," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com