Sudah Tiga Hari UNHCR Tidak Beri Makan Pencari Suaka

Sudah Tiga Hari UNHCR Tidak Beri Makan Pencari Suaka
Para Pencari Suaka di Eks Gedung Kodim Menghabiskan Waktu di Pelataran Gedung, Kamis 12 September 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Erwin C Sihombing )
Erwin C Sihombing / YUD Kamis, 12 September 2019 | 18:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para pencari suaka yang ditempatkan di eks gedung Kodim di Jalan Bedugul, Kalideres, Jakbar, sudah tiga hari tidak diberi makan oleh Badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi, UNHCR. Mereka hanya mengandalkan uang sendiri dan menunggu uluran tangan donatur.

Total jumlah pengungsi di lokasi ini sekarang menjadi 450 orang. Sebelumnya sempat berkurang lantaran banyak yang direlokasi ke wilayah lain. Belakangan 150 orang malah kembali lagi setelah menerima santunan Rp 1,3 juta untuk pengungsi yang sudah berkeluarga dan Rp 1 juta yang masih lajang dari UNHCR.

"150 orang datang lagi setelah mendapat uang dari UNHCR. Tetapi UNHCR tidak memberi makanan dan minuman selama tiga hari berturut-turut, sampai sekarang ini," kata petugas Dinsos DKI yang enggan disebutkan namanya.

Petugas harus berhati-hati dalam memberi makanan kepada pengungsi dari donatur. Setidaknya kuotanya harus cukup untuk 450 orang. Kalau jumlahnya tidak mencukupi, makanan tersebut disimpan dulu sampai datangnya makanan tambahan.

Petugas Dinsos itu juga mengatakan sudah tujuh hari anggota UNHCR tidak datang melakukan pendataan. Mereka terkesan menghindar bahkan cenderung melakukan pembiaran.

Pengungsi di Kalideres kebanyakan berasal dari Afganistan, Pakistan dan Sudan. Tidak sedikit dari mereka yang perempuan melahirkan di gedung yang sudah lama tidak dialiri listrik. Karena lama tinggal di Indonesia, sebagian dari mereka lancar berbahasa Indonesia.

Pengungsi di eks gedung Kodim Kalideres awalnya bakal dipindahkan setelah Pemprov DKI menyatakan menghentikan bantuan. Belakangan mereka diizinkan kembali untuk menetap di sana. Gubernur Anies Baswedan hingga kini belum menyempatkan diri untuk meninjau.

Sedangkan warga di sekitar enggan menerima keberadaan pengungsi. Sikap tersebut ditunjukkan dari banyaknya spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap adanya penampungan di lokasi mereka tinggal.

Salah seorang pengungsi, Mohammad Ali (22) asal Afganistan mengaku hanya di awal-awal saja mereka mendapat pasokan makanan dan minuman yang cukup dari UNHCR. Lambat laun perhatian tersebut dilupakan. Ali sudah menetap di Kalideres sejak Juni 2019.

"Sekarang untuk satu orang hanya diberi jatah dua gelas air mineral untuk sehari. Waktu awal-awal ada air galon isi ulang yang disediakan, sekarang sudah tidak ada lagi," kata Ali.

Ali mengungsi setelah dijanjikan UNHCR bakal diberikan suaka di antara tiga negara berbeda yakni, Amerika Serikat, Selandia Baru atau Australia. Dia sudah berada di Indonesia sudah tujuh tahun. Sedangkan keluarganya banyak yang mengungsi ke Pakistan.

"UNHCR hanya memberi janji tetapi tidak ditepati sampai sekarang," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan