Ojek Online Picu Macet, Pemkot Bogor Minta Operator Buat Pangkalan

Ojek Online Picu Macet, Pemkot Bogor Minta Operator Buat Pangkalan
Ilustrasi ojek dalam jaringan. ( Foto: Antara )
Vento Saudale / JAS Jumat, 13 September 2019 | 11:45 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) mencermati banyaknya pengedara ojek berbasis aplikasi memakan badan jalan dan penyumbang kemacetan di titik-titk pusat keramaian Kota Bogor. Pemkot Bogor pun meminta agar perusahaan penyedia jasa angkutan daring menyediakan halte/shelter yang bisa digunakan ojek untuk pangkalan.

Hal itu dikatakan Kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Rakmawati, Jumat (13/9/2019). Ia menilai, menilai keberadaan ojek berbasis aplikasi kerap memakan badan jalan di titik keramaian dianggap berbahaya dan menyumbang kemacetan.

Menurut Rakmawati, di beberapa lokasi keramaian seperti di seputar Stasiun Bogor atau sekolah, ojek online terlihat berkerumun tidak teratur. "Seharusnya tidak begitu. Karena berbasis aplikasi, ojek online cukup berada di shelter/pangkalan yang berjarak 50 hingga 200 meter dari pusat keramaian," ujarnya.

“Karena berbasis aplikasi, jadi enggak perlu berkerumun di titik keramaian. Dia cukup berada di shelter, terima order lalu menjemput ke stasiun lalu mengantar,” jelas Rachmawati.

Dishub Kota Bogor saat ini tengah membuat formulasi menggandeng perusahaan jasa angkutan berbasis aplikasi dengan penyedia parkir untuk membuat area penyangga (buffer zone). Area itu nantinya akan berjarak dengan pusat keramaian dan digunakan sebagai pangkalan ojek online.

Pemkot Bogor juga telah melakukan pertemuan dengan penyedia jasa angkutan. Rakma menyebut, penyedia jasa angkutan daring sudah mulai melakukan buffer zone di mal-mal, seperti sekitar Botani Square, Lippo Plaza Ekalokasari, Lippo Kebun Raya, dan Bogor Trade Mal (BTM).

“Tetapi kami minta tidak hanya di mal, juga di sekitar stasiun, sekolah, dan pasar,” terangnya.

Rakhmawati juga memastikan, yang saat ini kerap dilakukan dishub yakni dengan melakukan penertiban menggandeng kepolisian. Ia meyakini penertiban dilakukan untuk memberikan efek jera kepada ojek online yang menggunakan badan jalan dan menghambat laju lalu lintas. 



Sumber: BeritaSatu.com