Ubur-ubur dan Kerang Hijau Jadi Pusat Perhatian di Ancol

Ubur-ubur dan Kerang Hijau Jadi Pusat Perhatian di Ancol
Ubur-ubur kini banyak ditemukan di perairan Pantai Ancol, Jakarta Utara, Selasa (8/10/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus )
Carlos Roy Fajarta / WBP Selasa, 8 Oktober 2019 | 16:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua biota laut yakni ubur-ubur dan kerang hijau menjadi pusat perhatian di kawasan wisata terpadu pesisir Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara selama beberapa hari terakhir.

"Awal Oktober merupakan siklus munculnya ubur-ubur, karena berbarengan dengan berakhirnya musim kemarau. Namun keberadaan ubur-ubur tidak terlalu lama karena siklus hidupnya sekitar dua minggu," ujar Kepala Bagian Konservasi Ancol Taman Impian, Adi Bahar, Selasa (8/10/2019) siang kepada Suara Pembaruan di area dermaga Ancol tak jauh dari Pintu Timur Ancol

Ia menyebutkan jenis ubur-ubur yang ditemukan di perairan pantai Ancol mayoritas spesies jelly blubber (catostylus mosaicus) dengan masa hidup dua bulan jika dirawat di dalam akuarium. "Untuk ubur-ubur jenis box jellyfish (cubozoa) yang cukup berbahaya sampai hari ini belum ditemukan di Pantai Ancol. Ciri-ciri ubur-ubur ini berbentuk agak kubus kotak dengan warna agak kebiruan," jelas Adi Bahar.

Ia mengaku jumlah ubur-ubur di Pantai Ancol berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pihak Ancol juga sudah mengimbau kepada pengunjung untuk lebih waspada. "Makanya kita ada life guard, jaring di area berenang beach pool dan lagoon," tutur Adi Bahar.

Sementara peneliti Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Pencemaran Laut Toksikologi, Dwi Hindarti menyebutkan keberadaan kerang hijau di sekitar pantai Ancol masih harus diteliti lebih lanjut apakah dapat mengurangi polutan secara signifikan atau tidak.

"Namun jika mengonsumsi kerang hijau dari perairan yang tercemar seperti Teluk Jakarta, secara jangka panjang dapat membahayakan kesehatan manusia mulai kerusakan saraf, otak, menghambat pertumbuhan, kerusakan DNA, dan kanker," kata Dwi Hindarti.



Sumber: Suara Pembaruan