Efisiensi, Anggaran Penataan Trotoar Dipangkas Rp 204 M

Efisiensi, Anggaran Penataan Trotoar Dipangkas Rp 204 M
Pekerja Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta merevitalisasi trotoar di kawasan Kemang, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. Pemprov DKI Jakarta akan menjadikan kawasan Kemang sebagai destinasi wisata ikonik di Jakarta Selatan melalui penataan trotoar dengan konsep "complete street" yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2019. ( Foto: Antara Foto / Galih Pradipta )
Lenny Tristia Tambun / YUD Selasa, 12 November 2019 | 17:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Setelah pembahasan yang cukup panjang, akhirnya Komisi B DPRD DKI dan Dinas Bina Marga DKI sepakat untuk melakukan efisiensi anggaran penataan trotoar untuk tahun 2020.

Anggaran awal yang diusulkan dalam Rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD DKI 2020 sebesar Rp 1,2 triliun. Kemudian, disepakati dipangkas sebesar Rp 204 miliar. Sehingga total anggaran untuk penataan trotoar menjadi sekitar RP 1 triliun.

Pembahasaan anggaran penataan trotoar sempat ditunda. Dikarenakan seluruh anggota Komisi D bersama eksekutif, termasuk Dinas Bina Marga DKI meninjau trotoar yang sedang ditata di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Saat dimulai kembali rapat di ruang rapat Komisi D, Ketua Komisi D Ida Mahmudah mengatakan anggaran penataan trotoar bisa diefesiensikan mengingat ada beberapa trotoar yang akan terkoneksi dengan LRT Jakarta. Sementara LRT belum beroperasional secara resmi.

“Penataan trotoar yang terkoneksi LRT bisa dihold dulu ya,” kata Ida Mahmudah di ruang rapat Komisi D, DPRD DKI, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Menanggapi hal itu, Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) DKI bidang Pembangunan Yusmada Faisal mengatakan pembangunan jalan dan trotoar berbais complet membutuhkan anggaran besar dikarenakan dibangun dengan konsep complete street.

“Jadi ada ducting, lampu penerangan jalan dan street furniture. Makanya anggaran besar. Tapi apakah ini bisa diefisiensikan, bisa,” kata Yusmada Faisal.

Seperti pembangunan jalan dan trotoar di Jalan Suprapto yang akan terhubung dengan LRT bisa ditunda anggarannya. Ia tidak ingin, trotoar yang sudah dibangun, kemudian dibongkar lagi karena proyek LRT yang belum selesai.

Ia juga meminta Dinas Bisa Marga lebih teliti dalam pemilihanh lokasi penataan trotoar di tahun depan. Pekerjaan penataan trotoar harus diarahkan dalam upaya mengoptimalkan percepatan ridership dari angkutan massal yang sudah beroperasi di Jakarta. Diantaranya, BRT dan MRT Jakarta.

Last dan first mile itu penting didukung dengan trotoar. Tetapi jangan sampai trotoar sudah dibangun, kemudian dibongkar lagi. Harus dipastikan LRT jadi, trotoar pun jadi. Seperti saat pembangunan MRT selesai, penataan trotoar di Sudirman Thamrin pun selesai,” terang Yusmada Faisal.

Dalam rapat tersebut, Kepala Dinas Bina Marga DKI Hari Nugroho menjelaskan ada tiga paket penataan trotoar senilai Rp 1,2 triliun untuk 31 ruas sepanjang 103,74 kilometer (KM).

Yakni, pembangunan jalan dan trotoar beserta kelengkapannya paket 1 senilai Rp 511,4 miliar. Lalu Pembangunan jalan dan trotoar beserta kelengkapannya paket 2 senilai Rp 396,5 miliar dan pengembangan trotoar beserta bangunan pelengkap jalan paket ketiga senilai Rp 300 miliar.

“Kalau memang kegiatan ini harus ada efisiensi anggaran, kita sudah siapkan. Jadi yang skala prioritas harus dikerjakan, tetapi penataan trotoar yang berbarengan LRT bisa kita hold dulu. Seperti di jalan Letjen Suprapto,” kata Hari Nugroho.

Maka dari tiga paket tersebut, hanya dua paket yang dilakukan pemangkasan anggaran. Yaitu paket 1 dikurangi senilai Rp 152,4 miliar dan paket 2 senilai Rp 51,6 milair.

“Jadi total efisiensi anggaran penataan trotoar ada sebanyak Rp 204 miliar. Sehingga total anggaran penataan trotoar menjadi Rp 1 triliun dari awalnya Rp 1,2 triliun,” ujar Hari Nugroho.

Dengan efisiensi ini, maka panjang trotoar yang akan ditata oleh Dinas Bina Marga DKI pun berkurang menjadi 95 km dari awalnya 103,74 km.

Untuk paket 1, lanjutnya, penataan trotoar yang ditunda pengerjaannya ada di Jalan Letjen Suprapto dan Jalan Raya Kebon Sirih. Sedangkan paket 2, pengerjaan penataan trotoar yang ditunda ada di Jalan Balap Sepeda dan Jalan Kayu Putih.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI sendiri, sejak tahun 2016 hingga 2020 mendatang, bila penataan trotoar terus dilakukan, jumlahnya baru mencapai 16 persen dari total panjang trotoar di Jakarta yang mencapai 2.600 km.

Pada tahun 2016, Dinas Bina Marga DKI sudah mampu menata trotoar sepanjang 47,97 km. Lalu pada tahun 2017 mencapai 78,75 km. Meningkat di tahun 2018, perbaikan trotoar dilakukan sepanjang 118 km.

Lalu di tahun 2019, ditargetkan ada sepanjang 67,44 km trotoar yang ditata dan 2020 ada sepanjang 103,74 km.



Sumber: BeritaSatu.com