Wali Kota Bekasi Resmikan Penggunaan E-Paspor di Kantor Imigrasi Bekasi

Wali Kota Bekasi Resmikan Penggunaan E-Paspor di Kantor Imigrasi Bekasi
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (kanan) saat peresmian peluncuran e-Paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Bekasi, Kota Bekasi, Senin (18/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Mikael Niman )
Mikael Niman / JAS Senin, 18 November 2019 | 20:34 WIB

‎Bekasi, Beritasatu.com - Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, meresmikan penggunaan ‎ paspor elektronik atau e-Paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Bekasi, Kota Bekasi, Senin (18/11/2019).

Peluncuran perdana layanan e-Paspor di Kota Bekasi bertujuan untuk mempermudah dan memperlancar pembuatan paspor. Layanan e-Paspor sebelumnya telah tersedia di Kantor Imigrasi di Jakarta sejak 2017.

"Ini perlu kita apresiasi, khususnya Kantor Imigras Kelas II ini. Dengan e-Paspor masyarakat Kota Bekasi akan lebih mudah ke luar negeri. Begitu juga dengan turis-turis yang masuk ke daerah kita, dengan teknologi e-Paspor akan lebih cepat, mudah dan lebih lancar. Mudah-mudahan ini bisa ditiru instansi lainnya demi peningkatan pelayanan kepada masyarakat," ujar Rahmat Effendi, dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/11/2019).

Pelayanan ‎e-paspor merupakan paspor yang memiliki teknologi chip yang dapat menyimpan data biometric penggunanya yaitu wajah dan sidik jari. E-paspor juga memiliki data penerbit paspor tersebut sehingga mudah dilacak. Selain itu, keimigrasian lebih mudah mengidentifikasi pemilik paspor dan mempercepat proses keimigrasian karena terintegrasi dengan autogate di tempat pengecekan paspor seperti bandara, pelabuhan, lainnya.

Rahmat juga mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi masih memiliki janji untuk pembangunan gedung Lapas.‎ "Saya masih ada janji satu lagi, yakni menyelesaikan pembangunan gedung Lapas," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI, Petrus Teguh Aprianto, menyampaikan, peluncuran e-Paspor antara lain untuk mempermudah layanan keimigrasian dan memberikan kenyamanan kepada masyarakat.

"Dengan pelayanan e-paspor yang memiliki chip dan antena, pemegangnya bisa melewati pemeriksaan paspor melalui autogate. Jadi, ini akan mengurangi antrean pengecekan paspor di bandara-bandara, pelabuhan atau tempat lainnya. Ini juga akan meminimalisasi paspor palsu," jelas Petrus.

Untuk membuat e-paspor, menurutnya, tidak ada persyaratan khusus, pembuatannya sama dengan paspor biasa. Namun harganya lebih mahal karena di dalam e-Paspor terdapat teknologi canggih.

"Tujuan utama pelayanan e-Paspor ini juga untuk memperluas tempat pembuatan paspor, untuk pembuatan e-paspor pajak penerimaan negaranya sebesar Rp 650.000," katanya.

Pemilik e-Paspor juga akan mendapat keuntungan bebas visa ke Jepang. Pemegang paspor biasa untuk menggantinya ke E-paspor harus memenuhi syarat paspor hilang, rusak, dan penuh.

Ia juga mengatakan dengan teknologi seperti ini, selain memperlancar masalah keimigrasian, akan mempermudah kantor-kantor keimigrasian menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

"Keimigrasian selain harus memberikan pelayanan yang maksimal kepada publik juga harus bisa menjaga NKRI dari ancaman orang luar atau dalam negeri sendiri. Teknologi seperti ini akan sangat membantu pekerjaan itu baik memberikan pelayanan atau menjaga keutuhan NKRI karena negeri kita ini begitu luas," imbuhnya.



Sumber: Suara Pembaruan