Desain Ulang Revitalisasi TIM Masih Berproses

Desain Ulang Revitalisasi TIM Masih Berproses
Pekerja membereskan barang-barang milik bioskop XXI di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa 20 Agustus 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Erwin C Sihombing / JAS Selasa, 3 Desember 2019 | 19:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Desain ulang revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) buntut penolakan dari kalangan seniman terkait pembangunan wisma atau hotel dengan standar bintang lima masih berproses. Pihak Jakpro bakal terus mengadakan dialog dengan banyak pihak sambil menunggu rampungnya rancangan baru revitalisasi TIM.

"(Desain) masih dalam proses. Sedangkan dialog dengan semua stakeholder terus dilakukan," kata Dirut Jakpro Dwi Wahyu Darwoto, di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Pihak Jakpro diminta menyusun rancangan baru oleh Komisi B DPRD DKI dalam waktu dua minggu sejak dewan membatalkan anggaran pembangunan hotel sebesar Rp 200 miliar pada pekan lalu.

Adanya pembatalan pembangunan hotel mengakibatkan pengurangan anggaran revitalisasi TIM dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 1,6 triliun. Sebab pencairan anggaran melalui mekanisme Penyertaan Modal Daerah (PMD) dilakukan secara bertahap.

Pembangunan hotel masuk dalam tahap pertama yakni dimulai pada Juli 2019-Desember 2020 sebesar Rp 600 miliar. Namun dibatalkan dewan sebesar Rp 200 miliar yang dianggarkan untuk hotel.

Sedangkan pengerjaan tahap kedua untuk pembangunan Wisma Seni dimulai pada Januari 2020-Juni 2021 dengan nilai anggaran Rp 1,2 triliun.

Dwi masih menyimpan pertanyaan mengapa pengerjaan hotel ditolak oleh kalangan seniman yang sejatinya telah dilibatkan dalam forum diskusi grup terfokus. Dia menilai keberadaan hotel bukan bentuk komersialisasi TIM.

Keberadaan hotel, kata Dwi, dimaksudkan untuk mendukung kegiatan seni dan budaya di Kompleks TIM. Setidaknya untuk memperlengkap fasilitas TIM menerima tamu dari dalam maupun luar negeri. Hasil pengoperasian hotel nantinya bakal digunakan untuk mendukung kegiatan seni dan budaya di sana.

Dia mengaku heran dengan tuduhan komersialisasi TIM. Sebab di dalam kompleks TIM selama ini terdapat XXI yang juga komersil.

"Bayangkan kalau ada pemain-pemain dari luar kota bahkan mungkin luar negeri dan penonton luar kota bisa menginap di area pertunjukan kan bagus. Tetapi sudahlah, tunggu saja nanti hasil redesainnya. Dua minggu terakhir ini kami juga berdialog terus," ungkap Dwi.

Sekretaris Komisi B Pandapotan Sinaga menilai polemik pembangunan hotel di TIM muncul lantaran anak buah Gubernur Anies Baswedan menghardik seniman saat berbicara dalam forum diskusi di TIM terkait proyek itu. Peristiwa tersebut menjadi viral di media sosial dan belakangan menyulut emosi seniman yang awalnya mendukung proyek malah bersikap sebaliknya.

Pandapotan meminta pengerjaan proyek dimoratorium sambil menunggu desain baru dari Jakpro. Hal ini menjadi penting agar proyek revitalisasi TIM tidak mangkrak.

"Semua fraksi di dewan sudah setuju pembangunan hotel dibatalkan. Sekarang yang menjadi fokus adalah bagaimana agar revitalisasi ini tidak mangkrak," katanya.

Dikatakan keberadaan hotel di TIM sesuai dengan desain awal. Hotel itu pula yang nantinya dimanfaatkan untuk pemeliharaan TIM. Adanya pembatalan pembangunan hotel maka ke depan pemeliharaan TIM bakal disubsidi oleh DKI.

"Revitalisasi ini memang tidak akan memuaskan banyak pihak. Tetapi Jakpro harus memastikan, harus bertanggung jawab terhadap penyelesaian proyek ini dan intens menggelar dialog dengan seniman-seniman itu. Diakomodasi saja aspirasi mereka," ujarnya. 



Sumber: Suara Pembaruan