DKI Dinilai Perlu Terapkan Program Tangkap Air Hujan

DKI Dinilai Perlu Terapkan Program Tangkap Air Hujan
Ilustrasi hujan. ( Foto: Antara / Nova Wahyudi )
Carlos Roy Fajarta / FER Rabu, 8 Januari 2020 | 15:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Pemprov DKI Jakarta sekaligus pakar hidrodinamika Institut Teknologi Bandung (ITB) Muslim Muin menyebutkan salah satu solusi banjir di Jakarta adalah program tangkap air hujan.

Baca: Ini Strategi Pemprov DKI Kendalikan Banjir

Baca: Hujan 11 dan 12 Januari Tak Selebat Awal 2020

"Karena hujan besar, maka masyarakat perlu menggenangkan air di halaman rumah masing-masing. Jadi tangkap hujannya, gunakan hujannya, resapkan hujannya, sisanya baru dibuang," ujar Muslim Muin di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Muslim menjelaskan, program tangkap air hujan ini dapat dilakukan dengan menampung aliran air hujan yang turun agar tidak menggenang ke jalan.

Cara penampungannya, sebut Muslim, bisa dilakukan dengan membuat lubang biopori di halaman rumah atau membuat sumur-sumur terbuka agar air masuk ke dalam sumur tersebut.

"Air ini kan dari talang ya turun ke bawah. Nah ini ditampung. Bersih kok ini airnya. Ini seperti cara orang-orang tua kita zaman baheula (dulu) yang telah terbiasa melakukan ini," tutur Muslim.

Baca: Kerusakan Paling Parah di Lebak dan Bogor

Baca: Pemerintah Pastikan Kebutuhan Korban Bencana Terpenuhi

Muslim menyebutkan, air hujan tidak selalu diresapkan semua ke dalam tanah seluruhnya. Jika tidak bisa diresapkan ke dalam tanah maka perlu digenangkan sementara.

"Berapa tinggi genangan nya, 0,1 meter dibagi prosentase lahan terbuka itu saja. Ini hujan besar akan datang lagi loh katanya," tambah Muslim Muin.

Muslim mengatakan, air hujan diresapkan ke dalam tanah dapat melalui sumur dan kolam resapan maupun biopori. Sedangkan limpah air hujan dibuang ke saluran drainase atau digenangkan melalui Waduk.

"Semua warga melakukan kegiatan tangkap air hujan tersebut khususnya di daerah dataran tinggi," kata Muslim Muin.



Sumber: Suara Pembaruan