Pembangunan Jembatan Penghubung CSW Ditargetkan Rampung Agustus 2020

Pembangunan Jembatan Penghubung CSW Ditargetkan Rampung Agustus 2020
Rangkaian kereta MRT melintas di bawah Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta, Selasa (31/12/2019). Pemprov DKI Jakarta akan melakukan pengerjaan fisik desain ulang Halte CSW yang belum difungsikan tersebut dengan konsep terintegrasi Stasiun MRT ASEAN. ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Lenny Tristia Tambun / JAS Rabu, 22 Januari 2020 | 16:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan pembangunan jembatan penghubung Cakra Selaras Wahana (CSW) akan rampung pada Agustus 2020.

“Pembangunan ini kita targetkan bisa selesai di bulan Agustus 2020. Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan maka di bulan itu juga kita merdeka dari situasi yang tak terintegrasi,” kata Agung Wicaksono di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2020).

Dalam pembangunan jembatan penghubung CSW, pihaknya mengalokasikan biaya sebesar Rp 30 miliar untuk Fase I yang akan rampung pada Agustus 2020. Sedangkan Fase II akan dialokasikan anggaran sebesar Rp 25 miliar yang diharapkan dapat diselesaikan pada akhir tahun ini.

“Mengenai biaya, itu menelan biaya Rp 30 miliar untuk fase satu sampai Agustus. Itu sudah menghubungkan antara dua stasiun ini dengan bentuk setengah lingkaran, namun pekerjaannya ini total dilakukan dua fase yang memakan biaya Rp 55 miliar. Kita upayakan semaksimal mungkin, anggaran kita siapkan untuk tahun ini juga. Tapi kalau penyelesaiannya tergantung dari fase satu. Jika selesai Agustus fase satu ini, maka kita bisa upayakan di Desember tahun 2020 selesai fase dua,” jelas Agung Wicaksono.

Dijelaskannya, jembatan penghubung CSW bukan hanya sebuah jembatan untuk menghubungkan orang untuk berpindah moda, tetapi sebuah hub yang memudahkan pelanggan.

Apalagi, jumlah penumpang Transjakarta di Koridor 13 mencapai 30.000 orang per hari, sedangkan penumpang di Stasiun ASEAN MRT mencapai 2.500 pelanggan per hari.

“Jadi bayangkan saja, tentu potensinya besar. Saya mau menceritakan yang sudah terjadi integrasi transportasi di Bundaran HI, dulu koridor 1 Transjakarta di Bundaran HI itu ada 80.000 penumpang per hari. Kemudian orang-orang mengatakan apakah koridor 1 dilanjutkan atau tidak karena ada MRT. Ternyata sekarang dengan adanya MRT beroperasi, koridor 1 itu yang tadinya 80.000 malah meningkat menjadi 90.000 dan MRT juga menjadi 95.000 orang per hari,” terang Agung Wicaksono.

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William P Sabandar kemudian menjelaskan perkembangan pembangunan jembatan penghubung dengan panjang 145 meter saat ini telah selesai 66 persen dan direncanakan akan terbuka untuk publik dan mulai beroperasi pada Agustus 2020.

“Ke depannya, jembatan penghubung ini akan berfungsi sebagai akses baru untuk keluar - masuk di Stasiun MRT ASEAN dari sisi barat serta sebagai titik interkoneksi dengan Transjakarta Koridor 13. Jembatan juga akan dilengkapi dengan fitur eskalator dan elevator agar dapat diakses oleh setiap kalangan masyarakat, termasuk penumpang prioritas,” terang William.

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memiliki JakLingko, sistem integrasi transportasi publik berbasis jalan raya dan kereta (mikrobus, Transjakarta, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta). Dengan hadirnya infrastruktur terintegrasi ini, diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang beralih dari pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi umum.



Sumber: BeritaSatu.com