Curah Hujan Jakarta Jumat Tidak Seekstrem 1 Januari 2020

Curah Hujan Jakarta Jumat Tidak Seekstrem 1 Januari 2020
Ilustrasi hujan. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Sabtu, 25 Januari 2020 | 13:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com-Intensitas hujan lebat yang mengakibatkan 54 titik wilayah di Jakarta tergenang air dari 20 cm hingga 2,5 meter, Jumat (24/1/2020), hanya sepertiga dari hujan tanggal 1 Januari 2020 yang menibulkan banjir.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan sangat lebat yang mengguyur Jakarta, Jumat (24/1/2020) sejak pukul 07.00 WIB hingga 25 Januari 2020 pukul 07.00 WIB berada di stasiun meteorologi Kemayoran 123,7 mm per hari, Teluk Gong 115 mm per hari, stasiun meteorologi maritim Tanjung Priok 112 mm per hari, stasiun meteorologi Soekarno Hatta 105 mm per hari, Sunter Lii Rawabadak 101 mm per hari, dan Pakubuwono 100 mm per hari.

Kondisi ini berbeda dengan kejadian 1 Januari 2020, di mana stasiun pengamatan curah hujan di Halim mencatat curah hujan mencapai 377 mm per hari atau kondisi ekstrem.

Sedangkan di kawasan Istana curah hujan tercatat 88 mm per hari. Di kawasan lain tercatat Pulomas 98,6 mm per hari, stasiun Karet 43 mm per hari, Pasar Minggu 39 mm per hari, Sunter hulu 36,5 mm dan Halim Perdanakusuma 34 mm per hari.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo mengatakan, catatan curah hujan dipantau selama kurun waktu 24 jam. Untuk kategori hujan, 0,5-20 mm per hari kategori hujan ringan, 20-50 mm per hari sedang, 50-100 mm per hari lebat, 100-150 mm per hari sangat lebat dan ekstrem lebih dari 150 mm per hari.

"Ada pergeseran waktu hujan yang terjadi di Jabodetabek pada Kamis (23/1/2020)," kata Mulyono R Prabowo, Sabtu (25/1/2020).

Ditambahkan, saat Kamis malam hingga Jumat dini hari hujan terjadi di daerah selatan seperti Bogor, Depok dan Pasar Minggu. Setelah itu reda lalu bergeser ke Jakarta sehingga hujan mulai turun di Jakarta pada pagi hingga siang hari. Sedangkan di Bogor pada Jumat pagi hingga siang hari tidak hujan.

Sebelumnya, BMKG memperkirakan bahwa menjelang Imlek, Sabtu (25/1/2020) Jabodetabek akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Namun kondisi hujan lokal tetap akan mendominasi. Hujan lokal yang dimaksud bisa terjadi di suatu wilayah tertentu. Sedangkan wilayah lainnya tidak terjadi hujan.

Prabowo menjelaskan, saat ini BMKG melakukan prakiraan cuaca harian yakni 1-3 hari. Jika ada anomali atau perubahan yang disebabkan dari luar Indonesia (eksternal) atau dari dalam Indonesia, dan lebih spesifik lagi skala lokal, maka BMKG akan melakukan pengawasan kemudian menyampaikan peringatan dini 3 jam sebelum kejadian.

Ia menambahkan, validitas (tingkat akurasi) prakiraan cuaca jangka pendek harian 1-3 hari mencapai 80 persen. Sedangkan untuk yang lebih pendek lagi, seperti peringatan dini validitas mencapai 90 persen.

Faktor lokal yang mempengaruhi cuaca di suatu wilayah terdiri dari orografi atau hujan yang terjadi di daerah pegunungan, elevasi atau ketinggian suatu wilayah dan proses pemanasan dari pagi hari.

"Pada Kamis (23/1) pemanasan yang terjadi di Jakarta terjadi sejak pagi hingga siang hari. Kemudian terjadi pertumbuhan awan di sore dan malam hari, lalu dini hari proses pembentukan hujan dan hujan pada pagi hari Jumat (24/1)," ungkap Prabowo.

Selain itu lanjutnya, ada juga pengaruh faktor regional yakni aliran pertemuan arus udara belahan bumi utara dan selatan, lalu terjadi konvergensi atau pertemuan aliran udara di selatan Lampung, Selat Sunda bagian utara ke arah Laut Jawa.

Sedangkan faktor eksternal yang sifatnya global seperti madden julian oscalliation (MJO) tidak ada. MJO merupakan gangguan awan, hujan, angin dan tekanan udara yang melintasi kawasan tropis dan kembali ke titik awal dalam kurun waktu rata-rata 30 hingga 60 hari. MJO kerap digambarkan sebagai variabilitas iklim tropis interseasonal (bervariasi setiap minggunya).



Sumber: Suara Pembaruan