TMC Jabodetabek Hanya untuk Mengurangi Curah Hujan

TMC Jabodetabek Hanya untuk Mengurangi Curah Hujan
Petugas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan lokasi penyemaian garam ke awan dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC). (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / CAH Sabtu, 25 Januari 2020 | 16:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan sejak 3 Januari 2020 hingga saat ini bukan bertujuan meniadakan hujan, tetapi hanya mengurangi curah hujan. Harapannya, selama periode musim hujan tidak terjadi lagi banjir seperti 1 Januari 2020 yang melanda Jabodetabek.

Dari pengamatan tim Balai Besar TMC Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dari 3 Januari hingga 24 Januari 2020, operasi TMC sudah berhasil mereduksi 44 persen curah hujan di Jabodetabek.

Kepala Balai Besar TMC BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, TMC di dunia digunakan untuk berbagai tujuan seperti menambah curah hujan, meningkatkan hujan salju, mengurangi hujan es, mengurangi kabut.

Di Indonesia, TMC umumnya digunakan untuk menambah mengisi waduk, membasahi lahan gambut, memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau mengurangi curah hujan penyebab banjir.

"Dalam hal mengurangi penyebab banjir Jabodetabek dan sekitarnya seperti yang dilakukan sekarang ini, TMC dilakukan dengan menyemai awan-awan yang diprediksi oleh BMKG akan memasuki wilayah Jabodetabek dan berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir," kata Seto di Jakarta, Sabtu (25/1/2020).

Awan-awan tersebut lanjutnya, biasanya tumbuh di atas Lampung, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Kemudian tumbuh sambil bergerak menuju Jabodetabek.

Kecerdasan Buatan Buat Operasi Modifikasi Cuaca Lebih Akurat

"Awan-awan ini kita semai agar bisa menjadi hujan lebih awal di atas laut sebelum memasuki Jabodetabek," ucapnya.

Ia menuturkan, untuk awan-awan yang sudah matang, hujan bisa segera terjadi 10 menit setelah penyemaian. Namun jika bisa juga terjadi hujan 20 menit, 30 menit, bahkan 1-2 jam setelah penyemaian.

Umur awan dan arah serta kecepatan angin juga dihitung agar awan bisa jatuh di atas laut.

Pada kondisi tertentu, jika memungkinkan, awan juga diupayakan jatuh menjadi hujan di wilayah yang masih membutuhkan air hujan misalnya waduk. Namun ini lanjutnya, sangat jarang terjadi kecuali memang arah dan kecepatan anginnya memungkinkan untuk itu.

Ia menjelaskan, awan penyebab curah hujan ekstrem biasanya berupa awan cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi. Bahkan bisa sekumpulan awan Cb yang dikenal dengan super cloud cluster (SCC). Namun jika ditelusuri lebih lanjut, SCC terdiri atas beberapa cloud cluster (CC) yang bisa saja berupa awan rendah hingga Cb. Awan Cb memiliki proses mulai dari fase pertumbuhan yang kecil hingga membesar menjadi fase matang sampai fase meluruh.

Menurutnya, TMC sebisa mungkin dilakukan pada awan dengan fase tumbuh. Memang benar kata dia, bahwa awan cumulus (Cu) juga memiliki dinamika yang kuat. Jika tidak berhati-hati dan berpengalaman maka penyemaian pada awan Cu sangat berbahaya.

Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem, BPPT Tambah Operasi TMC

Tim TMC Nasional telah memiliki teknik penerbangan penyemaian pada awan Cu aktif. Seandainya pun awan sudah menjadi Cb, pada batas tertentu tim TMC masih mampu melakukan penyemaian pada titik-titik yang aman menurut pengamatan dan perhitungan kru pesawat.

"Menyemai awan tidak harus dari puncak awan. Dalam operasi TMC di dunia, sudah lazim menyemai awan justru dari dasar awan sekitar 3.000 kaki pada awan menjulang dengan ketinggian puncaknya mencapai puluhan ribu kaki," ungkapnya.

Seto menjelaskan, level ketinggian penyemaian bukanlah tolok ukur efektifitas penyemaian awan. Dalam sebuah awan terdapat aliran ke atas (updraft) dan aliran ke bawah (downdraft). Begitu bahan semai masuk ke dalam awan maka bahan semai akan menyebar ke hampir seluruh bagian awan.

Menyadari kompleksitas TMC, ke depan diperlukan dukungan prediksi cuaca yang makin akurat dan terkuantifikasi dengan baik. Dengan demikian target operasi semakin terukur dan berhasil.

Diperlukan pula penguatan armada baik melalui skema penggunaan pesawat TNI maupun pengadaan pesawat baru. Termasuk penggunaan metode baru seperti roket atau alteleri sebagaimana dilakukan oleh Tiongkok, atau mungkin penggunaan pesawat tanpa awan.



Sumber: Suara Pembaruan