PSI: Alihkan Anggaran Formula E untuk Antisipasi Banjir

PSI: Alihkan Anggaran Formula E untuk Antisipasi Banjir
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bertemu dengan pembalap Formula E Stoffel Vandoorne di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (12/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia Tambun )
Yustinus Paat / RSAT Kamis, 6 Februari 2020 | 19:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka (Komrah) tidak mengizinkan ajang Formula E menggunakan kawasan Monas. Komrah memerintahkan Pemprov DKI untuk mengadakan ajang tersebut di lokasi lain, karena Monas merupakan kawasan cagar budaya.

Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta mengusulkan agar Formula E dibatalkan, dan anggaran Rp 1,2 triliun digunakan untuk antisipasi banjir.

“Awal tahun baru 2020 Jakarta mengalami banjir besar, padahal cuma hujan sehari. Seharusnya antisipasi banjir menjadi prioritas utama Pemprov DKI, bukan Formula E. Rakyat Jakarta kebanjiran, tapi gubernurnya malah bikin acara balapan mobil,” ujar anggota Komisi D Fraksi PSI, Justin Adrian kepada Beritasatu.com, Kamis (6/2/2020).

Justin menilai, dengan adanya penolakan ini, sebaiknya Pemprov DKI meninjau kembali acara Formula E. Apalagi, jika lokasi dipindahkan ke jalan-jalan umum, maka akan menyebabkan kemacetan parah.

“Dari awal, kami menolak karena manfaat acara ini tidak jelas. Jika masih ngeyel juga, maka jelas sekali bahwa Pemprov DKI memang tidak punya prioritas yang jelas. Saya usul, sebaiknya Formula E dibatalkan, lalu uangnya buat antisipasi banjir yang lebih mendesak,” imbuh Justin.

Justin menegaskan terdapat tiga program antisipasi banjir yang lebih layak menjadi prioritas Pemprov DKI, yaitu perbaikan tanggul, normalisasi sungai, dan perbaikan pompa.

Dia menuturkan, survei Kementerian PUPR menemukan 44 tanggul rusak di Jabodetabek. Salah satunya, ada tanggul jebol di Kramat Jati, Jakarta Timur, namun warga sekitar terpaksa memperbaikinya secara swadaya.

“Saking lambatnya Pemprov DKI, warga sampai memperbaiki tanggul sendiri. Uang dan materialnya dari warga semua, Rp 20 juta. Uang segitu ngga ada apa-apanya dibanding anggaran Formula E sebesar Rp 1,2 triliun,” tandas Justin.

Sementara itu, Justin menyoroti program normalisasi sungai yang terhenti sejak 2018. Kementerian PUPR tidak bisa melaksanakan pekerjaan konstruksi karena masalah pembebasan lahan.

“Tahun 2019 kemarin anggaran pembelian lahan dibatalkan, katanya defisit. Kalau beneran defisit, mengapa malah bikin Formula E ratusan miliar?” ujar Justin.

Terakhir, Justin menekankan bahwa banjir awal tahun 2020 terjadi akibat banyaknya pompa dan pintu air yang yang tidak optimal.

“Dinas Sumber Daya Air bilang ada 76 pompa yang rusak. Kementerian PUPR bilang ada 11 pintu air rusak. Duit Formula E bisa dipakai untuk perbaikan itu semua dan masih sisa banyak,” pungkas Justin. (YUS)



Sumber: Suara Pembaruan