Terkait Formula E, Sekda DKI Akui Salah Ketik dalam Surat ke Mensesneg

Terkait Formula E, Sekda DKI Akui Salah Ketik dalam Surat ke Mensesneg
Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta Saefullah. ( Foto: Beritasatu Photo / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / CAH Jumat, 14 Februari 2020 | 23:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta Saefullah mengakui bahwa pihaknya melakukan salah ketik di salah satu poin dalam surat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Ketua Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka Mensesneg Praktikno soal penyelenggaraan Formula E yang melintasi kawasan Monas.

Menurut Saefullah seharusnya di dalam surat Anies tersebut ditulis "Tim Sidang Pemugaran (TSP)" sebagai pemberi rekomendasi boleh tidaknya Monas sebagai cagar budaya dimanfaatkan untuk balapan Formula E. Yang tertera dalam surat Anies bernomor 61/-1.857.23 tertanggal 11 Februari 2020 adalah rekomemdasi justru diberi oleh "Tim Ahli Cagar Budaya (TACB)".

"Jadi ada kekeliruan dari tim teknis kita. Kesalahan ketik itu kemarin tertulis TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) ya, seharusnya TSP (Tim Sidang Pemugaran)," ujar Saefullah di Balai Kota DKI, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Saefullah mengakui bahwa TACB dan TSP merupakan dua kelompok tim ahli yang berada di bawah Pemprov DKI Jakarta dengan tugas yang berbeda. TACB merupakan tim yang mengkaji kelayakan suatu benda, bangunan, lokasi, struktur atau satuan ruang geografis sebagai cagar budaya atau bukan cagar budaya. TACB ini beranggotakan 8 orang ahli cagar budaya yang bersertifikat nasional dari dirjen kebudayaan.

Sementara TSP merupakan tim yang dibentuk untuk memastikan dan mengkaji objek cagar budaya dinilai layak atau tidak dibuat pengembangan dan pemanfaatan untuk kegiatan tertentu termasuk mengkaji cagar budaya seperti Monas diperbolehkan menjadi ajang Formula E atau tidak.

TSP ini terdiri dari beberapa ahli yang tidak mutlak atau tidak wajib memiliki sertifikat kompetensi cagar budaya. TSP terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian tersendiri, seperti museumologi, arsitek, arkeologi, sipil dan lainnya.

"Kalau TACB itu tugasnya menilai benda, apakah ini masuk kriteria cagar budaya atau enggak. Jadi ini diranking. Kalau TSP ini dia merekomendasikan, ada sedikit metode, cara kerjanya supaya tidak hilang nilai-nilai budayanya," jelas Saefullah.

Menurut Saefullah, manusia tidak terlepas dari kesalahan. Karena itu, kasus salah ketik tersebut akan menjadi pelajaran bagi Pemprov DKI untuk melakukan ketelitian di waktu mendatang. Pemprov DKI, kata dia berencana mengirimkan surat perbaikan ke Mensesneg.

"Nanti kita susulin perbaikan. Surat satu kalimat dua kalimat, ya mohon maaf, harusnya tertulis TSP, tapi yang tertulis di situ ada TACB gitu. Jadi, yang benar adalah TSP," tandas dia.



Sumber: BeritaSatu.com