Klinik Aborsi di Paseban Buang Janin di Septic Tank

Klinik Aborsi di Paseban Buang Janin di Septic Tank
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus memberikan keterangan pers di lokasi klinik aborsi ilegal, Jumat, 14 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / BW Selasa, 18 Februari 2020 | 14:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik mengambil sampel diduga janin yang dibuang ke dalam septic tank di sebuah rumah yang dijadikan klinik aborsi ilegal, di Jalan Paseban Raya Nomor 61 RT02 RW 07 Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Kemudian, sampel dibawa ke Laboratorium Forensik Polri untuk dianalisis apakah benar janin atau bukan.

"Sampai saat ini kita masih tunggu hasil lab. Kemarin kita sudah ambil sampel. Berdasarkan keterangan pelaku, janin-janin yang dikeluarkan pasien ini semua dibuang ke dalam septic tank. Ini menurut keterangan pelaku, sebelum dibuang itu dihancurkan menggunakan salah satu bahan kimia. Ini masih kita cek bahan kimia apa yang digunakan," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Selasa (18/2/2020).

Dikatakan Yusri Yunus, ada beberapa karung sampel yang diambil dari dalam septic tank, di klinik ilegal itu.

Yusri menyampaikan, berdasarkan keterangan tersangka, janin yang masih berusia satu hingga dua bulan lebih mudah dihancurkan. Sementara, janin di atas 4 bulan agak susah.

"Yang kita lakukan penggerebekan kemarin, kita temukan satu janin umur 6 bulan. Rambutnya sudah ada," katanya.

Sebelumnya diketahui, Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membongkar praktik aborsi ilegal di sebuah rumah di Paseban, Senin (10/2/2020) lalu. Polisi juga membekuk tiga tersangka yang merupakan residivis atau penjahat kambuhan kasus serupa.

Tersangka pertama berinisial MM alias dr A, berperan sebagai dokter aborsi, penyewa rumah untuk dijadikan tempat klinik, dan penyedia alat dan obat-obatan. Kemudian, RM berperan sebagai bidan dan yang melakukan promosi, terakhir SI karyawan bidang pendaftaran serta administrasi pasien.

Berdasarkan keterangan, klinik yang sudah beroperasi selama 21 bulan itu, telah menerima 1.613 pasien dan 903 di antaranya melakukan aborsi.

Dalam kurun waktu 21 bulan itu, para tersangka meraup keuntungan hingga Rp 5,4 miliar. Pelaku membanderol harga praktik aborsi Rp 1 juta untuk usia kandungan 1 bulan, Rp 2 juta buat usia kandungan 2 bulan, Rp 3 juta hingga Rp 15 juta bagi usia kandungan di atas tiga bulan.



Sumber: BeritaSatu.com