Ini Kisah Wartawan yang Berada Dekat Menhub

Ini Kisah Wartawan yang Berada Dekat Menhub
Petugas membawa seorang wanita yang diduga terinfeksi virus corona ke ruang isolasi di RSPI Sulianti Saroso, Rabu (4/3/2020). ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Anselmus Bata / AB Kamis, 19 Maret 2020 | 10:49 WIB

Sebagai wartawan di sebuah media ternama di Jakarta, FR tak mengira wabah virus corona (Covid-19) yang bermula di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada awal Januari 2020, kini membuatnya panik. Saat berita-berita awal virus corona di Tiongkok muncul, Jakarta dan wilayah sekitar terendam banjir. Tak banyak orang yang memberi perhatian pada virus yang kini menghebohkan dunia.

Setelah dua bulan berlalu, ketakutan virus tersebut masuk ke tubuhnya tak pelak membuatnya panik. Ada dua penyebabnya: pertama, interaksi dengan saudara yang baru pulang dari Tokyo, Jepang, kedua, kehadirannya dalam liputan yang dihadiri Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yang kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Gatot Soebroto Jakarta setelah diumumkan positif tertular virus corona.

“Pertengahan Februari 2020, ternyata saudara saya ke Tokyo untuk berbulan madu. Sebelumnya memang ada rencana dibatalkan karena wabah Covid-19. Saya baru tahu dia ke Jepang pada 8 Maret. Meski agak kecewa, saya tidak bisa menyalahkan orang lain. Namun, saudara saya memastikan dirinya tak terinfeksi corona setelah diperiksa dua dokter,” katanya.

Peristiwa kedua membuatnya semakin panik. Hal itu berawal ketika FR menerima undangan meliput perjanjian kerja sama antara operator pelabuhan, yakni Pelindo II dengan operator dan perusahaan pengerukan asal Belanda pada Rabu, 11 Maret 2020. Pelindo II mengundang wartawan meliput perjanjian kerja sama antara kedua operator pelabuhan, yakni Pelindo II dengan Port Of Rotterdam di Museum Maritim Pelindo II yang berada di dalam kompleks perkantoran Pelindo II.

Setelah menunggu hampir satu jam, tim humas Pelindo II justru mengarahkan wartawan untuk mengambil foto perjanjian kerja sama yang dilakukan Menhub Budi Karya Sumadi dengan Menteri Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda, Cora Van Nieuwenhuizen di lantai 7 Gedung Pelindo II. Tim humas meminta wartawan tidak perlu mencegat (doorstop) menhub. Wartawan hanya diminta mengambil dokumentasi saat kedua menteri membubuhkan tanda tangan perjanjian kerja sama dan berfoto bersama sambil mengangkat bendera masing-masing negara.

“Jarak saya dengan menhub saat itu kurang lebih satu meter. Saat itu saya tidak memiliki prasangka apa pun dan meliput seperti biasa,” katanya.

Ketakutan tertular Covid-19 menyeruak ketika FR menonton breaking news di televisi pada Sabtu, 14 Maret 2020 sekitar pukul 20.00 WIB.

“Saya tertegun ketika mengetahui menhub positif corona. Saya panik saat itu. Campur aduk perasaan dalam hati saya antara takut, cemas, marah, dan sedih. Takut dan cemas karena saya pernah berada dekat dengan menhub dalam jarak sekitar satu meter,” ujarnya.

FR pun mengaku marah pada dirinya. “Marah karena sebenarnya saya dan awak media yang lain seharusnya tidak perlu naik ke lantai 7 dan meliput acara menhub. Seharusnya, saya cukup di Museum Maritim saja. Saya juga sedih karena baru memiliki seorang anak berusia dua bulan,” katanya.

Setelah itu, FR menceritakan kepada atasannya di kantor bahwa dirinya sempat berada dekat Menhub Budi Karya Sumadi saat melakukan liputan seminggu lalu. FR diminta segera memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan untuk kasus virus corona terdekat, yakni di Rumah Sakit Persahabatan atau RSPI Sulianti Saroso.

“Saya memilih RSPI Sulianti Saroso karena jaraknya lebih dekat dari rumah saya,” katanya.

Pada Minggu 15 Maret 2020 sekitar pukul 09.00 WIB, FR mendatangi posko Covid-19 di RSPI Sulianti Saroso. Dia diterima seorang petugas yang memintanya menceritakan gejala dan alasannya memeriksakan diri.

“Saya ceritakan bahwa saya baru liputan dengan jarak dekat menhub pada 11 Maret 2020 lalu, dan saudara saya ada yang baru pulang dari Tokyo pada pertengahan Februari 2020 lalu. Petugas kemudian mengecek suhu tubuh dan menyebutkan 36,5 derajat celsius.

"Apa ada gejala lainnya yang terasa?" tanyanya.

“Saya menjawab hanya demam, batuk, dan pilek. Tidak ada sesak napas maupun demam tinggi di atas 38 derajat celsius,” jawab FR.

Setelah itu, dia diminta petugas untuk pulang ke rumah dan mengisolasi diri selama 14 hari.

“Jika ada gejala memburuk selama periode itu, silakan hubungi 112 nanti Dinkes DKI akan menurunkan tim untuk mengambil spesimen atau tes swab,” katanya.

Jawaban petugas belum mampu membuatnya tenang. “Bagaimana mungkin saya disuruh menunggu 14 hari tanpa kepastian, sedangkan saya masih mengalami gejala demam ringan disertai batuk dan pilek,” katanya.

Difasilitasi kantor tempatnya bekerja, FR memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit di wilayah Jakarta, Senin, 16 Maret 2020. Darahnya diambil, serta paru-paru dan tenggorokannya diperiksa dengan CT-Scan.

“Sore hari hasil scan sudah ada dan menunjukkan kondisi paru-paru dan sekitar tenggorokan saya baik. Tidak ada tanda-tanda kelainan atau sejenisnya,” ujarnya.

Selama 14 hari ke depan, sejak Minggu, 15 Maret 2020, FR harus melakukan isolasi diri dan dikelompokkan sebagai orang dalam pemantauan (ODP).

“Sejak saya diminta mengisolasi diri atau ODP, teman-teman yang biasa meliput di lapangan juga meminta saya tidak mendekati mereka. Saya berharap tidak tertular virus corona dan semoga wabah ini segera berlalu, karena telah membuat semua orang di seluruh dunia cemas,” tutupnya.

Kaget
Pengakuan yang sama juga disampaikan seorang wartawan yang bertugas di Istana Kepresidenan.

“Sewaktu mendengar menhub positif corona, saya secara pribadi kaget sekali. Karena saya yang bertugas meliput di Istana Kepresidenan, kerap kali berada dekat dengan menhub untuk kepentingan wawancara, terutama pada 4 Maret dan 11 Maret. Ketika itu menhub datang untuk mengikuti rapat terbatas yang digelar Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka,” kata seorang wartawan Istana yang meminta namanya tak disebut.

Kabar itu tidak hanya membuatnya khawatir, juga wartawan lain yang sempat berada dekat menhub. Apalagi, dia mengaku mengalami beberapa gejala seperti orang tertular virus corona, yakni batuk kering dan sedikit sesak napas selama empat hari terakhir.

“Yang lebih membuat saya khawatir adalah beberapa teman wartawan Istana Kepresidenan yang sering liputan bareng, juga jatuh sakit dengan gejala mirip corona, yakni batuk, pilek dan demam. Bahkan ada yang langsung dijemput staf kantornya untuk segera diisolasi dan diperiksa,” ujarnya.

Untuk memastikan kondisi kesehatannya, RS Persahabatan atau RSPI Sulianti Saroso menjadi pilihannya. Namun, setelah mendapat informasi bahwa wartawan kurang mendapat layanan yang baik, dia pun urung memeriksakan diri di sana.

“Mereka mengeluh karena ternyata rumah sakit rujukan tidak siap menangani orang yang datang dengan gejala mirip pasien positif corona. Ada rumah sakit rujukan yang libur melakukan screening pada Sabtu dan Minggu, padahal teman-teman saya siap membayar semua biayanya. Ada yang membayar tes hingga Rp 1 juta, itu pun belum dilakukan tes usap (swab) karena tidak mengalami gejala corona,” ujarnya.

Sebuah rumah sakit swasta akhirnya menjadi pilihannya untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan darah dan paru-paru menunjukkan dirinya aman dari corona. Meski demikian, dia dimasukkan dalam kelompok ODP yang harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Mendengar saya harus self isolated, bersama suami kami memutuskan untuk mengungsikan anak ke rumah orang tua. Saya berharap, selama 14 hari masa self isolated, tidak akan terjadi hal-hal buruk. Meski dinyatakan aman corona, tetapi masuk kelompok ODP membuat saya tidak nyaman. Saya masih tetap khawatir dan berdoa agar tetap negatif corona sampai masa karantina berakhir,” tutupnya. 



Sumber: BeritaSatu.com