Kerja dari Rumah Pengaruhi Kualitas Udara di Jakarta

Kerja dari Rumah Pengaruhi Kualitas Udara di Jakarta
Akibat curah hujan yang tinggi belakangan ini, kualitas udara Jakarta terlihat membaik. Ini tampak dalam aplikasi Air Visual yang mengukur kualitas udara di berbagai kota di dunia, termasuk Jakarta. Foto diambil pada Kamis (9/1/2020). (Foto: Suara Pembaruan/Elvira Anna Siahaan)
Yustinus Paat / BW Rabu, 25 Maret 2020 | 15:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, kualitas udara di Jakarta cenderung membaik beberapa hari terakhir.

Menurut Andono, hal ini tidak lepas dari pemberlakuan kebijakan social distancing melalui kerja di rumah atau work from home (WFH), belajar, dan ibadah dari rumah untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.

"Namun, kebijakan kerja di rumah bukan merupakan faktor tunggal membaiknya kualitas udara," ujar Andono, Rabu (25/3/2020).

Andono menilai, faktor lain yang mempengaruhi kualitas udara di Jakarta adalah curah hujan dan arah angin.

“Hujan yang turun di Jabodetabek juga turut membantu tercucinya atmosfer dari polusi,” kata dia.

Dia memaparkan, berdasarkan pemantauan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, hasilnya menunjukkan perbaikan kualitas udara, terutama menurunnya kosentrasi parameter PM 2.5 selama penerapan WFH.

“Namun, penurunan ini juga konsisten dengan tingkat curah hujan. Ketika curah hujan tinggi, kosentrasi parameter PM 2.5 menunjukkan penurunan dan ketika hari-hari tidak hujan, kosentrasi parameter PM 2.5 sedikit meningkat,” jelas dia.

Selain itu, arah angin juga berpengaruh terhadap polutan jenis PM 2.5 ini atau partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m³.

“Arah angin yang mengarah ke Ibukota juga mempengaruhi konsentrasi parameter PM 2.5,” pungkas Andono.



Sumber: BeritaSatu.com