Anak Jalanan Dibina Jadi Petani Milenial

Anak Jalanan Dibina Jadi Petani Milenial
Petani menyemprot tanaman di Teluk Naga, Tangerang, beberapa waktu lalu. (Foto: istimewa)
Bernadus Wijayaka / BW Sabtu, 2 Mei 2020 | 21:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan jumlah petani milenial. Salah satunya, yang berlatar belakang anak jalanan.

"Salah satu fokus dari Kementerian Pertanian adalah mencetak sumber daya manusia berkualitas. Hal ini sejalan dengan yang selalu digaungkan Presiden," tutur Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian (Kemtan) Dedi Nursyamsi, Sabtu (21/5/2020).

Dukungan ini juga yang diberikan kepada petani bernama Bagas. Sejak 2004 hingga kini, Bagas mulai menekuni dunia pertanian. Hasilnya, ia mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah per hari. Bahkan, ia juga mampu mengajak generasi muda lainnya untuk menjadi petani milenial.

"Kita beri dukungan kepada petani Bagas. Karena, ia membuka peluang kerja dan juga mencetak petani milenial, sebuah tindakan yang positif," paparnya.

Bagas bertani di daerah Teluk Naga, Tangerang, dengan luas tanam 26 hektare. Komoditas utama yang dihasilkan Bagas dari 2004 adalah sayur-sayuran, khususnya kangkung dan bayam. Namun, ia juga mampu menghasilkan komoditas melon dan labu madu hanya sebagai komoditas sampingan.

“Saat ini saya sudah memiliki 40 petani, yang saya bagi menjadi 3 kelompok. Ada kelompok budidaya sayuran, budidaya melon dan sayur buah lain, budidaya cabai,” terang Bagas.

Menariknya, Bagas merangkul anak jalanan. Sebagian besar petani yang dibinanya adalah mantan anak jalanan. Bagas juga sudah membina 5 petani milenial yang kini sudah cukup sukses. Bahkan, menjadi pesaing bisnis sayurannya.

“Rekrutmen saya memang cukup ekstrem, karena mereka anak-anak jalanan, bertato. Namun, setelah kita tawarkan itu, mereka tertarik, lalu kita bimbing, kita ajak bekerja. Kita kasih tahu seperti ini cara budidaya, seperti ini cara pemasaran. Jadi mereka sangat semangat dan sudah berjalan empat tahun-lima tahun ini mereka menikmatinya,” ujarnya.

Saat ini, Bagas dan para petani binaanya mampu menghasilkan 10.000-15.000 ikat kangkung dan bayam (sekitar 2,5 ton), dengan omzet mencapai Rp 15 juta per hari. Pasar utama hasil panen Bagas adalah pasar modern.

“Saya adalah pemasok sayuran di Superindo dan Alfamidi daerah Tangerang. Omzet pemasaran di pasar modern bisa mencapai Rp 9 juta per hari. Sedangkan, untuk pasar tradisional omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 6 juta per hari,” paparnya.

Untuk komoditas labu dan melon, rencananya dipanen pada H+7 atau H+10 Ramadan. Ia berharap masa panen bisa turut dihadiri pihak Kemtan.



Sumber: BeritaSatu.com