Hidup New Normal Terikat Persyaratan Ketat

Hidup New Normal Terikat Persyaratan Ketat
Physical Distancing di Pasar Salatiga, Jateng (Foto: istimewa)
Bhakti Hariani / FER Minggu, 17 Mei 2020 | 19:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Protokol The New Normal yang digadang-gadang bisa dilaksanakan pada Juni mendatang, dihadapkan pada banyak tantangan dan juga harus dilakukan dengan penuh kedisiplinan.

Baca Juga: AP II Siapkan Protokol The New Normal

Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna mengatakan, saat menjalani new normal nanti maka setiap orang harus siap diikat dengan aturan dan ketentuan-ketentuan yang akan diterapkan.

"Ini jadi suatu aturan yang merupakan kewajiban sebagai upaya untuk berdamai dengan virus. Saat ini pun sebenarnya kita sudah berdamai dengan banyak virus seperti HIV/ AIDS, cacar, DBD dan sebagainya. Hidup kita nantinya akan penuh dengan persyaratan untuk menjaga diri demi kesehatan dan keselamatan," ujar Yayat di Jakarta, Minggu (16/5/2020).

Namun demikian, kata Yayat, sejumlah persyaratan dan aturan yang nanti mengikat harus dibarengi dengan disiplin yang tinggi yang harus dilaksanakan oleh masyarakat. Untuk soal disiplin ini diakui masih merupakan pekerjaan rumah yang panjang bagi masyarakat Indonesia yang kerapkali sulit diajak berdisiplin.

"Jika ingin disipin dapat ditegakkan maka pemerintah harus tegas dan keras. Bisa mencontoh Tiongkok dan Vietnam. Aturan yang ada dibuat tegas dan juga banyak petugas yang siap melakukan penindakan jika ada yang melanggar," tutur Yayat.

Baca Juga: Erick Thohir Minta BUMN Siapkan The New Normal

Hidup new normal nantinya akan dipenuhi dengan rambu-rambu aturan yang dapat ditemui di setiap sudut fasilitas umum yang ada. "Contohnya seperti di Jepang saat ini dimana banyak rambu-rambu yang terpasang. Orang Indonesia pun di new normal nanti harus menaati aturan-aturan yang dibuat," tutur Yayat.

Hidup new normal, kata Yayat, juga berarti para karyawan bisa bekerja dari rumah dan tidak selamanya harus terus berada di kantor. "Jurnalis pun bisa work from home nantinya," kata Yayat.

Hal yang sama juga berlaku dengan dunia pendidikan. Dimana jumlah murid yang banyak dapat disiasati dengan membuat jadwal shift bergilir diantara seluruh jumlah siswa.

"Bisa saja masuk sekolah hanya menjadi tiga hari saja bagi tiap siswa karena bergiliran masuk sekolahnya. Meski tak berangkat ke sekolah pada esok harinya tugas bisa dilakukan via online di rumah saja," ungkap Yayat.



Sumber: BeritaSatu.com