Ridwan Kamil: Adaptasi Baru di Ruang Publik Bukan Pelonggaran Protokol Kesehatan

Ridwan Kamil: Adaptasi Baru di Ruang Publik Bukan Pelonggaran Protokol Kesehatan
Presiden Joko Widodo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kedua kiri) dan Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz (kanan) serta Gubernur Jabar Ridwan Kamil (kiri) meninjau salah satu pusat perbelanjaan, di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020). (Foto: Antara / Fakhri Hermansyah)
Mikael Niman / DAS Selasa, 26 Mei 2020 | 19:02 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menegaskan, adaptasi baru di ruang publik seperti di pusat perbelanjaan atau pasar tradisional selama pandemi Covid-19, bukanlah pelonggaran terhadap protokol kesehatan melainkan pendisiplinan. 

Adaptasi baru yang dimaksud adalah pendisiplinan protokol kesehatan ditambah dengan aturan-aturan baru agar kegiatan perekonomian secara perlahan dapat bangkit kembali.

"Perlu adanya adaptasi baru di ruang publik, seperti pusat perbelanjaan atau pasar tradisional, selama pandemi Covid-19. Ekonomi ini perlahan-lahan harus beradaptasi. Bukan pelonggaran, bukan relaksasi tetapi adaptasi terhadap normalitas baru,” ujar Ridwan Kamil di Summarecon Mal Bekasi, Kota Bekasi, Selasa (26/5/2020).

Summarecon Mal Bekasi, yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Utara, menjadi percontohan bagi pusat perbelanjaan lain dalam menerapkan adaptasi baru yang dimaksud tersebut.

Dia menjelaskan, cara beradaptasi terhadap tatanan kehidupan normalitas yang baru di antaranya tetap dengan menerapkan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, sarung tangan, jaga jarak fisik, pengecekan suhu tubuh dan sebagainya.

Selain itu, tempat usaha wajib mengumumkan berapa kapasitas pengunjungnya. Biasanya dapat menampung 10.000 orang, sekarang hanya menjadi 5.000 pengunjung.

Petugas keamanan setempat yang akan memastikan jumlah pengunjung mal. Apabila telah melebihi jumlah kapasitas, pengunjung diminta antre di satu tempat dan tidak diperkenankan memasuki mal. Begitu juga masuk ke restoran, sudah harus ada pengumuman bahwa restoran hanya menerima per satu waktu 10 meja saja, dari, misalkan, 20 meja kapasitas maksimalnya.

“Inilah (yang disebut) adaptasi baru. Bekasi melakukan ini karena sudah konsultasi sudah masuk zona hijau. Berarti nanti zona hitam atau zona merah, Pak Wali Kota ada diskresi tidak mengizinkan (dibuka),” ujar pria yang akrab disapa Kang Emil ini.

Wilayah kota dan kabupaten di Jawa Barat, kata Kang Emil, berbasis data sehingga adaptasi baru di pusat perbelanjaan atau pasar tradisional dapat dilaksanakan.

Di Jawa Barat terdapat lima level kategori kerawanan pandemi. Level paling parah, level 5 (hitam). Tidak ada daerah yang masuk kategori ini. Di bawahnya,  level merah terdapat di tiga kabupaten/kota. Berikutnya  zona kuning ada di 19 kota/kabupaten, zona biru di  lima kota/kabupaten, serta belum ada yang masuk zona hijau.

"Tapi kalau di zoom ke dalam kelurahan-kelurahan, di level zona merah pun banyak yang sudah zona hijau. Summarecon Bekasi ini masuk di kelurahan yang zona hijau maka secara aturan zona hijau, adaptasi baru bisa dilakukan tetap dengan menggunakan protokol baru,” imbuhnya.

Dia menegaskan, Presiden Joko Widodo mengunjungi Summarecon Mal Bekasi bukan untuk membuka pusat perbelanjaan namun untuk memastikan adaptasi baru tersebut dapat terlaksana.

“Jadi, Presiden hari ini bukan membuka mal tapi ini merupakan simulasi jika mal sudah mulai dibuka proses simulasinya seperti apa? Sejak PSBB diberlakukan, untuk urusan makanan dan obat-obatan memang dibuka terus di mal ini. Selain (tenan menjual) bahan pokok makanan dan obat-obatan, tidak boleh,” pungkasnya.

Summarecon Mal Bekasi akan dibuka seluruh tenan setelah periode PSBB di Jakarta dan Kota Bekasi telah berkahir.



Sumber: BeritaSatu.com