Anies: Dampak Covid-19, Pendapatan Pajak DKI Turun 55%

Anies: Dampak Covid-19, Pendapatan Pajak DKI Turun 55%
Anies Baswedan. (Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao)
Yustinus Paat / CAH Jumat, 29 Mei 2020 | 18:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui bahwa dampak Covid-19 telah membuat APBD Tahun 2020 mengalami penurunan yang drastis. Salah satunya, kata Anies pendapatan dari pajak yang mengalami penurunan sebesar 55 persen dari yang dianggarkan.

"Dan kita, di Pemprov DKI Jakarta, juga terkena dampak langsung. Pendapatan pajak turun dari Rp 50,17 triliun menjadi Rp 22,5 triliun, tinggal 45 persen," ujar Anies dalam Youtube Pemprov DKI Jakarta, Jumat (29/5/2020).

Dampaknya, kata Anies, APBD DKI juga mengalami penurunan dari Rp 87,9 triliun menjadi Rp 47,2 triliun atau tersisa 53 persen. Covid-19 telah membuat APBD DKI turun sebesar 47 persen.

"Belum pernah di dalam sejarah Pemprov DKI Jakarta, kita mengalami penurunan pendapatan sebesar ini, yaitu lebih dari Rp 40 triliun," tandas Anies.

Karena itu, lanjut Anies, Pemprov DKI nengambil langkah relokasi anggaran. Menurut Anies, tidak ada pilihan lain selain realokasi anggaran untuk menjalankan roda pemerintahan khususnya dalam penanganan Covid-19 di Jakarta.

Baca JugaPAD Anjlok Akibat Covid-19, Tunjangan PNS DKI Dipotong Mulai Mei 2020

"Dalam kondisi pendapatan yang berkurang separuh, maka kita harus lakukan relokasi, kita harus melakukan pengurangan anggaran di berbagai sektor belanja langsung, belanja tidak langsung. Semua mengalami pemangkasan dan pemangkasannya drastis," ungkap dia.

Dalam dokumen keuangan Pemprov DKI yang diterima Beritasatu.com pada awal Mei 2020, disebut, PAD dari pajak daerah yang ditetap dalam APBD DKI 2020 sebesar Rp 50,170 triliun. Hingga 30 April 2020, realisasi pendapatan dari pajak daerah ini baru sebesar Rp 8,225 triliun. Diproyeksikan realisasi pendapatan dari pajak dalam periode Mei hingga Desember 2020 (jika Covid-19 terus berlangsung hingga Desember 2020), sebesar 14,344 triliun. Dengan demikian, proyeksi pendapatan DKI dari pajak daerah 2020 sebesar Rp 22,570 triliun atau hanya 44,99 persen dari angka yang ditetapkan.

Baca Juga: Ini 3 Kebijakan Pemprov DKI terkait Pajak Daerah

Terdapat dua jenis pajak yang mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis, yakni pajak reklame yang ditetapkan sebesar Rp 1,325 triliun, karena Covid-19 diproyeksi akan mengalami penurunan hingga Rp 200 miliar atau hanya 15,09 persen dari angka yang ditetapkan. Kemudian, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang mengalami penurunan hingga 16,27 persen. Dalam APBD DKI 2020, pendapatan dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebesar Rp 10,600 triliun dan diproyeksi turun hingga Rp 1,725 triliun (16,27 persen).

Pajak rokok diproyeksi tidak mengalami dampak dari Covid-19 sehingga pendapatan dari pajak rokok tetap 100 persen, yakni sebesar Rp 650 miliar. Pajak jenis lain yang penurunan pendapatannya tidak sampai di bawah 50 persen adalah pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor serta pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan.

Diketahui, pajak daerah merupakan salah satu pos dari PAD. Selain pajak daerah, PAD DKI juga berasal dari retribusi daerah sebesar Rp 755,75 miliar, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebesar Rp 750 miliar dan lain-lain PAD yang sah sebesar Rp 5,885 triliun. Dengan demikian total PAD DKI Tahun 2020 yang sudah ditetapkan sebesar Rp 57,561 triliun. 



Sumber: BeritaSatu.com