Nestapa Ojek Daring di Tangerang

Nestapa Ojek Daring di Tangerang
Pengemudi ojek daring di Tangerang menunggu order pengantaran barang. (Foto: Berita Satu / Chairul Fikri)
Chairul Fikri / BW Jumat, 12 Juni 2020 | 10:26 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Aplikasi ojek daring di Kota Tangerang belum dapat mengangkut penumpang. Hal itu lantaran hingga kini di wilayah Tangerang Raya masih melaksanakan pembatasan sosial bersakal besar (PSBB) hingga 14 Juni 2020 mendatang.

Imbasnya, pendapatan tukang ojek daring pun belum normal. Hingga saat ini, mereka masih mengandalkan pendapatan dari layanan antar makanan dan ekspedisi paket.

Namun, layanan antar jemput paket dan makanan pun tak bisa dinikmati semua tukang ojek daring. Layanan tersebut hanya berlaku bagi yang memiliki rekam jejak mengantar paket dan makanan saja.

Yang tidak memiliki rekam jejak, terpaksa menganggur atau mencari pekerjaan sampingan. Hal tersebut dikisahkan Mochammad Thoriq Syahroni. 

"Saya sampai sekarang masih menunggu saja kebijakan dari pemerintah. Dari pusat saya juga belum tahu, belum ada instruksi juga. Kita masih belum bisa cari penumpang meski sebenarnya di aplikasi sudah ada layangan. Lagi pula kayaknya masih sepi karena masih ada pelaksanaan PSBB sampai tanggal 14 Juni," ungkap Thoriq.

Ditambahkan Thoriq, meski hingga kini ada bantuan dari pihak operator untuk pengemudi, mereka sebenarnya masih takut mengangkut penumpang, apalagi di daerah yang punya zona merah seperti di Kota Tangerang.

"Kita sebenarnya juga takut mas, mengangkut penumpang karena kan masih banyak orang yang tidak terdeteksi. Makanya teman-teman ojol di Tangerang masih mau main layanan antar jemput paket dan makanan saja. Namun, kita sendiri berharap nantinya kalau sudah boleh mengangkut penumpang agar diperingan saja aturannya, biar kita pasrah saja, dan tetap berusaha menjalankan aturan pemerintah tentang pemakaian masker dan pakai sarung tangan," tambahnya.

Partisi
Rizal, pengemudi ojek daring lainnya, hingga kini belum mendapatkan informasi terkait pemakaian partisi yang akan digunakan para pengemudi ojek daring selama masa pandemi ini. Bahkan Rizal enggan menggunakan partisi yang kemungkinan akan diterapkan bagi pengemudi ojek daring di Indonesia.

"Kalau (pakai) partisi belum ada informasinya dari perusahaan, meski dari berita kita baca pihak operatornya akan memberlakukan pemakaian partisi buat pembatas. Teman-teman di sini kayaknya keberatan pakai itu, karena kalau pakai partisi kan pastinya akan menghambat pergerakan kita saat mengemudi. Kita juga khawatir partisi akan membuat kita celaka, karena akan menghambat angin. Takutnya, bayar lagi. Malah kata teman di Jakarta kita tiap hari dipotong Rp 10.000 buat bayar partisinya," tandas Rizal.



Sumber: BeritaSatu.com