Antisipasi Lonjakan Penumpang KRL, 30 Bus Disiapkan di Stasiun Bogor

Antisipasi Lonjakan Penumpang KRL, 30 Bus Disiapkan di Stasiun Bogor
Wali Kota Bogor Bima Arya saat mengecek kesiapan Stasiun Bogor jelang awal minggu kerja, Minggu (14/6/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale)
Vento Saudale / JAS Minggu, 14 Juni 2020 | 18:36 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Mengantisipasi membeludaknya antrean calon penumpang kereta rel listrik (KRL) dari pemberangkatan Stasiun Besar Bogor, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menerima bantuan 30 bus yang akan diberangkatkan dari Kota Bogor ke lima titik di Jakarta.

Wali Kota Bogor Bima Arya menuturkan, 30 bus dengan kapasitas sekitar 30 tempat duduk itu merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menilai, antisipasi itu juga berkaitan dengan ada beberapa sektor termasuk mal yang sudah beroperasi di Jakarta.

“Penyediaan bus merupakan bantuan dari DKI Jakarta yang pernah saya sampaikan beberapa hari lalu. Saya berterima kasih kepada Gubernur Anies (Baswedan) karena dikabulkan, ada 30 bus khusus dari Stasiun Bogor diberangkatkan ke lima titik di Jakarta,” Bima mengonfirmasi, Minggu (14/6/2020).

Sebanyak 30 bus itu akan terparkir di Jalan Mayor Oking, atau berseberangan dengan pintu masuk stasiun. Mulai dari pemberangkatan pertama pukul 15.15 dan pemberangkatan terakhir pukul 7.30 WIB. Sedangkan lima titik di stasiun pemberhentian yakni, Stasiun Tebet, Manggarai, Sudirman, Djunda, dan Stasiun Tanah Abang.

Adapun secara teknis nanti, lanjut Bima, akan diberangkatkan dengan jeda 15 menit. Ia pun berharap agar warga Kota Bogor yang naik bus antre secara tertib. Selain itu, ada juga petugas yang akan mengatur pemberangkatan dan pengawasan.

Bima menyebut, 30 awak bus itu tentunya tidak akan cukup untuk melayani sekitar 70.000 penumpang KRL. Terlebih, kapasitas bus pun berkurang 50 persen.

Artinya, setiap bus berangkat hanya mengangkut 15 penumpang. Pun demikian, Bima tetap mengapresiasi terkait penyediaan bus karena bisa sedikit memecah konsentrasi penumpang KRL.

“Kapasitasnya 50 persen. menampung 15 penumpang. Kalau 30 bus baru sekitar 500. Tetap ada pengaruhnya, tapi tidak banyak. Kuncinya tetap pengaturan keberangkatan,” kata Bima.

Bima Arya juga masih berharap agar DKI Jakarta tetap memberlakukan sif kerja. Pembagian sif masuk kerja pagi dan siang dianggap ampuh untuk mengurangi jumlah penumpang KRL. Khususnya lagi bagi pekerja perempuan dapat pulang lebih awal.

Rencananya, Senin (15/6/2020) pagi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun akan meninjau pemberangkatan bus atau situasi di Stasiun Besar Bogor.



Sumber: BeritaSatu.com