Ditlantas-Dishub Atur Jam Operasional Jalur Sepeda Sementara

Ditlantas-Dishub Atur Jam Operasional Jalur Sepeda Sementara
Ilustrasi Jalur Sepeda (Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono)
Bayu Marhaenjati / JAS Kamis, 18 Juni 2020 | 13:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, menyiapkan jalur sepeda sementara (pop up bike lane) sepanjang 14 kilometer dengan aturan waktu tertentu setiap hari, di Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta.

Tujuan penyedian jalur sepeda sementara di jalur lalu lintas dengan menggunakan pembatas atau traffic cone itu, guna menghindari papasan pesepeda dengan pejalan kaki di trotoar, termasuk membentuk masyarakat yang sehat dan produktif di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

"Kami melaksanakan peninjauan terhadap jalur sepeda yang kita sebut dengan pop up bike lane, di mana memang jalur sepeda tersebut merupakan bagian daripada upaya kita untuk membentuk masyarakat yang sehat, dan produktif menuju era new normal," ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo, di Jakarta, Kamis (18/6/2020).

Dikatakan Sambodo, Ditlantas dan Dishub telah melaksanakan uji coba dan disepakati ada pengaturan waktu penerapan jalur sepeda sementara. Pertama jalur sepeda akan digelar pagi dan sore setiap hari. Pada hari kerja Senin hingga Jumat, pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB dan sore hari mulai pukul 16.00-18.00 WIB.

"Kemudian untuk Sabtu, karena harinya bukan hari kerja, maka kita gelar dari jam 06.00 sampai jam 10.00 WIB (pagi hari). Kemudian, untuk sore dari jam 16.00 sampai jam 19.00 WIB," ungkapnya.

Sambodo melanjutkan, pada hari Minggu, rencananya pekan depan sudah diberlakukan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), sehingga pengguna sepeda mengikuti waktu kegiatan car free day. Kemudian, pada sore harinya petugas kembali menyediakan jalur sepeda sementara mulai dari jam 16.00 hingga 19.00 WIB.

"Di sela-sela jam itu, maka traffic cone atau pembatas pop up bike lane ini kemudian kita pinggirkan karena memang, terutama pada hari kerja arus lalu lintas cukup deras," katanya.

Sambodo mengimbau, kepada pengguna sepeda agar memanfaatkan jalur sepeda sementara yang disediakan. Sebab, berdasarkan pengamatan selama beberapa hari belakangan banyak pengendara sepeda tidak masuk jalur sepeda, melainkan mengambil jalur tengah menyelip di antara kendaraan sehingga sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

"Kalau pesepeda tersebut mendapatkan kecelakaan lalu lintas bukan di jalur sepeda, maka kita bisa saja memperhitungkan nanti, kita akan lihat belum tentu ini yang menabrak yang salah. Bisa saja yang salah itu pihak pesepeda. Tapi kalau dia bersepeda di jalurnya, maka apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan kita bisa sampaikan yang salah adalah bukan sepeda tersebut. Ini mohon jadi perhatian teman-teman komunitas sepeda supaya betul-betul memanfaatkan jalur sepeda yang kita sudah kami siapkan," katanya.

Sambodo menegaskan, bagi pesepeda yang tidak menggunakan jalur sepeda sementara bisa dikenakan sanksi hukuman Pasal 299 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kepada para pesepeda itu juga ada ancaman hukumannya. Jadi para pemakai sepeda yang tidak menggunakan jalur sepeda yang sudah disediakan, artinya kalau di jalan itu ada jalur sepeda kemudian tidak dipakai itu kita ada ancaman hukumannya yaitu, Pasal 299 Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Itu ada ancaman pidananya, dendanya itu Rp 100.000 atau ancaman kurungan 15 hari. Jadi sebetulnya kalau ada nanti setelah kita sosialisasi kemudian kami sampaikan ini masih ada pesepeda yang bandel tidak mengerti jalur sepeda padahal di jam-jam itu ada jalur sepeda, maka bisa saja kita kenakan tilang," terangnya.

Sambodo menambahkan, pop up bike lane tidak permanen, karena setelah masa PSBB transisi selesai atau pandemi corona berakhir, Ditlantas serta Dishub DKI akan mengevaluasi apakah jalur sepeda sementara masih dibutuhkan atau tidak.

"Ya kita lihat lah semiggu ini. Selama seminggu ini kita arahkan untuk pesepeda masuk ke jalur. Nggak apa-apa (melintas kalau tidak ada jalur sepeda sementara). Hanya untuk pesepeda yang ada jalur sepedanya saja," tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, sebagaimana diketahui DKI Jakarta tengah menjalani masa PSBB transisi di tengah pandemi Covid-19. Pada masa ini telah ada pergerakan aktivitas masyarakat menggunakan angkutan umum, dan di sisi lain terjadi peningkatan pengguna sepeda di jalan.

"Oleh sebab itu pada koridor Sudirman-Thamrin ini, di mana sebelumnya jalur sepeda berada di dalam trotoar menjadi satu kesatuan atau satu bagian dengan pejalan kaki, maka untuk mengurangi penyebaran di antara pesepeda dan pejalan kaki, di koridor Sudirman-Thamrin kita pisahkan jalur sementara untuk pesepeda berada di jalur lalu lintas. Harapannya dengan ini maka tidak akan ada lalu lintas bercampur antara pesepeda dan pejalan kaki sehingga kita terus bisa menekan penyebaran Covid-19," katanya.

Syafrin menuturkan, pelaksanaan penyediaan jalur sepeda sementara akan terus dievaluasi dan dilaporkan kepada Ketua Gugus Tugas DKI, Gubernur Anies Baswedan.

"Jadi ini jalur sepeda sementara. Perlu dipahami, sekarang di Sudirman-Thamrin itu desain kami jalur sepeda itu ada di trotoar menjadi satu bagian dengan pejalan kaki. Untuk menekan penyebaran Covid-19, maka kita pisahkan jalurnya. Sehingga tidak terjadi papasan antara pengguna angkutan umun yang turun dari halte, maupun stasiun MRT dengan pesepeda yang tentu di sana membuka peluang adanya potensi penyebaran. Itu kenapa kemudian kita pisahkan dan siapkan jalur sepeda sementara," jelasnya.

Syafrin melanjutkan, total jalur sepeda sementara dipasangi traffic cone sepanjang 14 kilometer dibagi dua arah Sudirman-Thamrin dan sebaliknya. "Ini totalnya dua arah 14 kilo. Jadi 7 kilo, 7 kilo. Nanti ke depan kita akan evaluasi (penambahan panjang jalur). Kita terbatas traffic cone-nya," katanya.

Bayu Marhaenjati



Sumber: BeritaSatu.com