Puncak Pandemi Covid-19 Kota Bogor Juli-Agustus

Puncak Pandemi Covid-19 Kota Bogor Juli-Agustus
Wali Kota Bogor, Bima Arya. (Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale)
Vento Saudale / JAS Jumat, 19 Juni 2020 | 22:40 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Puncak pandemi Covid-19 di Kota Bogor diprediksi baru akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2020 mendatang. Hal itu berdasarkan hasil kajian epidemiologi penularan Covid-19 di Kota Hujan.

"Seperti yang saya sampaikan sebelum Lebaran maka puncak (pandemi Covid-19) Kota Bogor akan ada di bulan Juli-Agustus. Kita sedang menuju puncak," kata Wali Kota Bogor Bima Arya, Jumat (19/6/2020).

Berdasarkan data yang diperoleh diketahui 54 persen penyebaran Covid-19 terjadi dari fasilitas kesehatan, kedua 19 persen dari luar Bogor atau import case, ketiga 14 persen dari kantor pemerintahan, dan sisanya 13 persen kasus penularan terjadi di pusat perbelanjaan.

Bima Arya memaparkan, paling dominan penyebab sumber penularan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, labotarium dan apotek di Kota Bogor dinilai kurang disiplin menerapkan protokol kesehatan. Menurut Bima Arya, cukup banyak fakta temuan yang mengindikasikan protokol kesehatan tidak maksimal diterapkan.

“Berdasarkan pemantauan bersama pemprov diketahui ada yang abai misalnya jalur pasien yang tidak dipisah, pengolahan limbah medis, pemisahan toilet, dan sebagainya,” kata Bima.

Guna mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19 di Kota Bogor, sebagai langkah awal Bima Arya menargetkan 8.000 warga Kota Bogor akan menjalani uji swab, sebanyak 3.596 atau sekitar 44 persen sudah dites sehingga menghasil puluhan pasien positif dan ratusan orang dalam pemantauan (ODP).

"Kita kejar 5.000 sebulan ini. Kuota swab Kota Bogor 8.000 warga mengacu terhadap jumlah penduduk sesuai arahan organisasi kesehatan dunia (WHO)," ujarnya.

Bima menjelaskan, hal tersebut dapat diantisipasi dengan cara mencegah transmisi penularan dari luar Kota Bogor. Karena, menurut Bima potensi terbesar dan yang paling sulit dikendalikan dalam hal penularan Covid-19 yakni transmisi dari luar kota.

"Bisa terkendali apabila mencegah transmisi dari luar. Artinya yang dikhawatirkan adalah yang masuk ke Kota Bogor. Jadi transmisi lokal bisa dikendalikan kecuali di faskes makanya kita akan perketat pengawasan itu (transmisi luar)," ungkap Bima.

Meski begitu, ia menyadari bahwa angka pasien positif akan terus mengalami kenaikan juga seiring dengan masifnya pemeriksaan melalui tes polymerase chain reaction (PCR). Terpenting, pihaknya terus berupaya semaksimal mungkin melakukan pencegahan penularan dan menyelamatkan warga Kota Bogor dari virus ini.

"Kalau berhasil mencegah transmisi luar dan memperketat tadi tetap ada kemungkinan positif tetap naik. Kami bukan mengotak-atik angka, bukan target rendah. Tapi targetnya supaya banyak yang selamat karena sangat mungkin angka ini terus naik. Yang penting ujung-ujungnya melandai," tutup Bima Arya.



Sumber: BeritaSatu.com