Waspadai Sampah APD di Teluk Jakarta

Waspadai Sampah APD di Teluk Jakarta
Tumpukan sampah di hutan Mangrove Ecomarine Pelabuhan Perikanan Muara Angke, kawasan Teluk Jakarta sebelum dibersihkan pada Jumat 16 Maret 2018. (Foto: Istimewa)
Heriyanto / HS Selasa, 23 Juni 2020 | 10:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan perubahan komposisi sampah jenis baru yang masuk ke Teluk Jakarta saat pandemi Covid-19. Adapun jenis baru adalah alat pelindung diri (APD) seperti masker dan pelindung wajah yang dapat memberikan tekanan pada lingkungan di wilayah tersebut.

Peneliti LIPI Muhammad Reza Cordova di Jakarta, Senin (22/6), menjelaskan pihaknya melakukan studi pada dua muara sungai di Jakarta selama pandemi Covid-19, yaitu Cilincing dan Marunda. Kedua muara itu juga menjadi lokasi penelitian jenis sampah pada 2016. Dari kedua kurun waktu penelitian itu, para peneliti menemukan bahwa sampah APD dalam jumlah signifikan di kedua muara tersebut. Dikatakan, dari sebelumnya nihil (kosong) pada Maret-April 2016 naik menjadi 16 persen di periode yang sama pada 2020.

"Datanya memang unik, kalau secara berat dari total keseluruhan sampah sampahnya menurun hampir 30 persenan, tapi jumlah sampahnya meningkat sampai lima persen. Ternyata itu memang disebabkan karena adanya APD yang ditemukan di sampel penelitian kami," kata peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI tersebut.

Dia menjelaskan, sampah APD yang ditemukan oleh tim teliti sampah LIPI adalah masker berbahan scuba dan kain, masker bedah, pelindung wajah dan bahkan baju hazmat. Sebelumnya sampah medis yang biasa ditemukan adalah pembungkus obat dan alat kontrasepsi. Demikian juga plastik adalah jenis sampah yang paling banyak masuk ke Teluk Jakarta sebesar 59 persen dari total sampah dengan kebanyakan berupa styrofoam.

Melihat tren sampah APD di lingkungan saat pendemi, dia memperingatkan adanya kemungkinan bisa membawa material penyakit yang bisa ditularkan. Risiko patogen yang menempel pada masker dan hazmat yang menjadi sampah itu berbahaya untuk individu yang membersihkannya, seperti petugas kebersihan.

Secara ekosistem, seperti dilporkan Antara, sampah APD di Teluk Jakarta itu akan memberikan tekanan tambahan untuk ekosistem lingkungan wilayah. "Sekarang misalnya sedang musim monsun barat yang ditandai dengan anginnya itu lebih banyak, katakanlah, ke Pulau Seribu, masker itu bisa menutupi terumbu karang atau mangrove. Apakah itu ada gangguan atau tidak, kemungkinannya iya, tapi sejauh mana butuh kajian lebih lanjut," kata dia.

Reza juga mengatakan bahwa sampah masker dan medis yang digunakan dalam kegiatan rumah tangga seharusnya dikelola secara khusus, sesuai dengan edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 02 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (limbah B3 dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19).



Sumber: BeritaSatu.com