Pemprov DKI Tetap Lanjut Seleksi PPDB Jalur Zonasi dengan Kriteria Usia

Pemprov DKI Tetap Lanjut Seleksi PPDB Jalur Zonasi dengan Kriteria Usia
Siswa mengisi formulir Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara daring melalui gawainya. (Foto: ANTARA FOTO / Muhammad Bagus Khoirunas)
Yustinus Paat / WBP Kamis, 25 Juni 2020 | 05:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan tetap melanjutkan seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2020 jalur zonasi dengan prioritas kriteria umur. Seleksi PPDB jalur zonasi tetap dilakukan mulai Kamis, (25/6/2020) meskipun mendapatkan protes dari orangtua murid kerena menciptakan diskriminasi.

“Untuk PPDB, kami sudah menjadwalkan, dinas pendidikan itu membawahi seluruh anak-anak. Jadi kami akan lanjut. Nanti akan dilakukan evaluasi setelah proses ini selesai,” ujar Kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana dalam rapat bersama Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama perwakilan orang tuamurid di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Rabu (24/6/2020).

Nahdiana menegaskan Pemprov DKI Jakarta sudah mengakomodir seluruh lapisan masyarakat dengan sistem PPDB 2020/2021 yang menyediakan berbagai jalur, mulai jalur zonasi, afirmasi hingga jalur prestasi. Masyarakat DKI, kata dia, bisa memilih mendaftarkan anaknya melalui jalur yang ada. Dengan jalur zonasi, Pemprov DKI menyediakan untuk peserta didik sesuai dengan domisili mereka masing-masing.

Baca juga: Mendikbud Diminta Turun Tangan Atasi Kendala PPDB

Sementara, jalur afirmasi merupakan jalur yang disediakan untuk peserta didik dari keluarga kurang mampu. Selain itu Pemprov DKI Jakarta memberi kesempatan bagi anak dari tenaga kesehatan yang meninggal dalam penanganan Covid-19 untuk bersekolah di sekolah negeri. Lalu jalur prestasi terdiri dari prestasi akademik dan nonakademik. “Pendidikan kita untuk semua, jadi dengan sistem ini kami menyatakan ini mengakomodir seluruh lapisan, silakan daftar sesuai jalurnya, ada afirmasi, zonasi, dan prestasi. Kalau anak Anda, bisa daftar di jalur prestasi” ungkap dia.

Terkait kriteria umur di jalur zonasi, kata Nahdiana, pihaknya memilih karena kreteria tersebut paling netral dan tidak bisa diintervensi. Menurut dia, status ekonomi dan prestasi anak didik bisa diintervensi untuk ditingkatkan dari keadaan sekarang.

“Jadi kalau seleksi dengan menggunakan usia yang tertinggal adalah yang muda. Kalau seleksi dengan menggunakan nilai, yang tertinggal adalah nilai yang kecil. Ketika yang tertinggal adalah usia, kami memakasi usia ini karena memang usia ini variabel yang netral, yang nggak bisa diintervensi apapun,” jelas dia.

Nahdiana mengakui bahwa daya tampung sekolah Negeri di Jakarta terbatas sehingga setiap jalur sudah ditentukan kuotanya, termasuk kuota untuk jalur zonasi, yakni sebesar 40 persen. Jika yang mendaftar melebih kuota 40 persen, maka pihaknya akan menyeleksi dengan kriteria usia terlebih dahulu, disusul kriteria pilihan sekolah dan waktu mendaftar.

Dengan kriteria ini, kata dia, Pemprov DKI bukannya mengabaikan prestasi akademik calon peserta didik. Pihaknya, telah menyediakan jalur bagi calon peserta didik yang muda dan berprestasi, melalui jalur prestasi.

“Mereka yang mampu dan tidak mampu secara sosial dan ekonomi dan mereka yang pandai dan belum pandai, ada di sini (jalur zonasi) semuanya. Dan nanti diseleksi dengan usia setelah zonasi. Ketika mereka yang muda dan berprestasi, silakan masuk jalur prestasi,” imbuh dia.

Dalam rapat tersebut, perwakilan orangtua murid di Jakarta menyampaikan keluhan dengan kriteria usia dalam proses seleksi PPDB 2020 jalur zonasi. Mereka menilai kebijakan tersebut justru menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi karena mengabaikan faktor jarak antara sekolah dengan tempat tinggal dan prestasi akademik calon peserta didik.

Para orang tuamurid ini sebenarnya sepakat dengan beberapa usulan anggota DPRD DKI agar menunda selama seminggu waktu seleksi jalur zonasi untuk dikaji lagi secara mendalam. Apalagi, situasi sekarang masih dalam kondisi pandemik Covid-19. Tetapi, karena Dinas Pendidikan Pemprov DKI tetap ngotot melanjutkan seleksi jalur zonasi, mau tidak mau mereka mengikuti sambil memantau perkembangan seleksinya.

“Mau nggak mau yang zonasi kita coba, mau gimana lagi? Zonasi kita coba sambil kita pantau hasil anak-anak yang tidak mendapatkan tahapan besok. Berapa anak yang terlempar? Ibu Nahdianah tadi tidak bisa menjawab bagaimana prakiraan data anak yang akan keterima. Kenapa dia bisa membatasi usia sampai begitu? Kenapa pakai usia lebih tua? Kenapa paket C dihilangkan dan anak-anak dilebur? Jadi, kita cuma minta usia ini dihapuskan,” ujar salah satu perwakilan orangtua murid Tita Sudirman usai rapat dengan Komisi E DPRD tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com