Ini Alasan Anies Baswedan Perpanjang PSBB Transisi 14 Hari

Ini Alasan Anies Baswedan Perpanjang PSBB Transisi 14 Hari
Kegiatan di Pasar Tanah Abang di masa PSBB Transisi, Senin 15 Juni 2020. (Foto: BeritaSatu Photo / Bayu Marhaenjati)
Yustinus Paat / JAS Rabu, 1 Juli 2020 | 22:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan alasan pihaknya memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi hingga 14 hari ke depan, dari 3 Juli sampai 16 Juli 2020. Padahal, Anies mengakui bahwa indikator-indikator yang telah dianalisis oleh tim Fakultas Kesehatan Masyarakat UI bersama para pakar epidemiologi menunjukkan Jakarta berada pada indikator pelonggaran atau aman.

Alasan utama PSBB transisi diperpanjang, kata Anies, adalah keselamatan masyarakat karena wabah Covid-19 masih ada, meskipun bisa dikendalikan. Apalagi, positivity rate-nya di Jakarta masih dalam angka aman sesuai standar WHO, yakni 5 persen.

“Kita merasa lebih bertanggung jawab untuk teruskan ini (PSBB transisi). Karena keselamatan nomor satu. Dan kita nggak mau di Jakarta buru-buru melakukan pelonggaran, itu berisiko, kita longgarkan (kapasitas) 50 persen jadi 100 persen, lalu terjadi lompatan kasus,” ujar Anies saat konferensi pers di Balai Kota, Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Selain itu, kata Anies, berdasarkan hasil pantauan dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, masih terdapat sejumlah wilayah di DKI Jakarta yang laju incident rate-nya masih cukup tinggi. Meskipun laju incident rate secara umum di Jakarta relatif terkendali.

“Gambaran mapping kecepatan laju incident rate di Jakarta yang secara umum situasinya relatif terkendali. Ada satu kecamatan, satu kelurahan, yang di situ laju incident rate-nya masih ada, masih tinggi,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Anies menuturkan, hasil analisis oleh tim Fakultas Kesehatan Masyarakat UI bersama para pakar epidemiologi terhadap indikator pelonggaran di DKI Jakarta yang menunjukkan total skor di Jakarta mencapai di atas 70 atau berada di indikator pelonggaran.

“Dari indikator pantau pandemi yang disusun oleh tim FKM UI, ada 3 unsur, yakni epidemiologi, kesehatan masyarakat, dan fasilitas kesehatan. Di sini terlihat bahwa unsur epidemiologi skornya 75, kesehatan publik skornya 54, dan faskes skornya 83. Sehingga, total skor di DKI adalah 71,” jelas Anies.

Meskipun penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta terkendali, kata Anies, bukan berarti masyarakat bebas di masa perpanjangan PSBB transisi. Dia berharap masyarakat tetap disiplin mengikuti protokol kesehatan.

“Secara umum, masih perlu ada peningkatan kedisiplinan masyarakat di dalam 3 aspek penting. Satu adalah penggunaan masker, dua adalah mencuci tangan secara rutin, dan ketiga adalah menjaga jarak. Tiga aspek ini perlu kita jaga dan tingkatkan,” pungkas Anies.



Sumber: BeritaSatu.com