Pemkot Bekasi Masih Telusuri Pembuang Limbah Medis

Pemkot Bekasi Masih Telusuri Pembuang Limbah Medis
Limbah medis yang ditemukan di Zona IV TPA Sumurbatu, milik Pemkot Bekasi, merupakan hasil investasi dari KPNas baru-baru ini. (Foto: Suara Pembaruan/Mikael Niman)
Mikael Niman / CAH Senin, 6 Juli 2020 | 19:40 WIB

Bekasi, Beritasatu.com – Penemuan limbah medis yang ditemukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu Zona IV, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, pertama kali diungkap oleh Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto.

Berdasarkan investigasi KPNas pada 4 Juli 2020 masih ditemukan pembuangan limbah medis diduga bekas penanganan Covid-19 di Zona IV TPA Sumurbatu.

“Limbah medis itu bekas sortir dan sisa-sisanya dibuang ke Zona IV tersebut. Sebagian limbah medis itu tercampur dengan sampah biasa. Sebagian masih dalam sejumlah bungkus keresek merah,” ujar Bagong Suyoto, Senin (6/7/2020).

Dia menjelaskan, hasil penemuan limbah medis berupa tisu, plastik bungkus obat, selang dan botol infus dan material lainnya, seperti masker, pispot, alat suntik yang dikemas dalam belasan karung berukuran 50 kg.

“Keberadaan limbah medis di TPA tersebut merupakan bukti ilmiah tak terbantahkan, sulit diverifikasi dan dipatahkan. Fakta itu bicara menunjukkan kebenarannya sendiri,” tegasnya.

Baca JugaTumpukan Limbah Medis Bekas Penanganan Pasien Covid-19 Ditemukan

Bagong meminta, pemerintah daerah segera menghentikan pembuangan sampah medis di TPA Sumurbatu karena peraturan melarang hal tersebut. "Kita tak lagi berdebat, itu sebagai zona pembuangan tidak aktif. Tapi faktanya, ada limbah medis di lokasi tersebut dan segera dihentikan pembuangannya," tuturnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi masih melakukan pendalaman terkait penemuan limbah medis ini. Pemerintah daerah berdalih, semua rumah sakit swasta maupun RSUD Kota Bekasi telah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam menampung limbah medis rumah sakit.

“Pasti ada sanksi kalau limbah itu datang dari tim kesehatan rumah sakit atau dari ruang isolasi (Covid-19) RSUD, tapi RSUD telah kerja sama dengan pihak swasta. Limbah medisnya aman (dihancurkan),” ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Pemerintah daerah telah memiliki kebijakan tentang pengelolaan limbah B3 medis fasilitas pelayanan kesehatan darurat Covid-19 yang tertuang dalam Peraturan Wali Kota. Dalam aturan tersebut, rumah sakit, klinik maupun Puskesmas wajib memusnahkan limbah medis dengan mesin bersuhu tinggi.

Menurutnya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi masih melakukan penelusuran pelaku pembuang limbah medis tersebut. 

 



Sumber: BeritaSatu.com