Ikappi Catat 217 Kasus Pedagang Pasar Positif Covid-19

Ikappi Catat 217 Kasus Pedagang Pasar Positif Covid-19
Ilustrasi pasar tradisional (Foto: Antara / Nyoman Hendra Wibowo)
Hotman Siregar / CAH Rabu, 8 Juli 2020 | 18:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menilai ada beberapa kebijakan Pemprov DKI yang perlu dievaluasi terkait pemaksaan terhadap pedagang dalam melakukan rapid test dan swab.

"Ini justru menjadi persoalan baru dan memperkuat indikasi lemahnya komunikasi antara pengelola pasar atau Pemprov DKI dengan pedagang pasar," ujar Reynaldi Sarijowan Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi di Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Ikappi mendapat laporan beberapa kasus laporan antara lain penjemputan paksa pedagang untuk melakukan rapid test dan swab. Langkah ini tidak diharapkan, sesungguhnya pedagang sendiri bersedia untuk melakukan rapid test dan swab tanpa ada paksaan tetapi pelaksanaannya di jam-jam pedagang sedang senggang serta pemberitahuannya tidak mendadak.

"Jika pedagang sedang ramai pembeli agak cukup sulit utk dipaksakan rapid test dan swab," tuturnya.

Baca JugaButuh Ketegasan Atasi Pandemi Covid-19 di Jakarta

Reynaldi mendorong CSR agar membantu proses pelaksanaan protokol kesehatan ini di pasar tradisional. Misalnya sabun yang tercampur dengan air itu tidak efektif untuk di gunakan pengunjung mencuci tangan dengan sabun.

"Maka sabun kita harapkan CSR bisa membantu semua pihak bisa bergoyong- royong untuk membantu pengadaan sabun untuk cuci tangan di pasar-pasar tradisional," katanya.

Ikappi berharap pemprov melakukan kampanye secara massif entah di media mainstream atau secara langsung untuk mengkampanyekan pasar tradisional aman. Pasar sehat dan upaya-upaya ini harus di dorong dan dilakukan secara bersama-sama dengan paguyuban atau kelompok pedagang di pasar tersebut.

"Keterlibatan personil TNI/Polri untuk lebih wise, untuk lebih halus kami berharap tanpa menggunakan seragam. Contoh TNI/Polri berseragam biasa agar bisa terlihat lebih tidak menakut-nakuti pedagang atau pengunjung," katanya.

Baca Juga: Ketum Ikappi: Jual-Beli di Pasar Pasti Aman dengan Protokol Kesehatan

Upaya-upaya dan ikhtiar ini diharapkan bisa memperkuat protokol kesehatan di pasar tradisional dan menggugah semangat pedagang untuk terus memulihkan ekonominya. Masa transisi PSBB merupakan masa sulit bagi pedagang, masa dimana ekonomi pedagang terjun bebas hingga 50 persen.

"Maka kami meminta semua pihak untuk membantu bergotong-royong untuk memulihkan ekonomi pedagang pasar di Jakarta dan memperlancar distribusi pangan rakyat karena pasar tradisional adalah ujung dari distribusi pangan rakyat," katanya.

Di pasar tradisional DKI Jakarta, kata Reynaldi, terdapat penambahan kasus yang cukup besar. DKI merupakan provinsi tertinggi kasus positif di pasar, yaitu 217 kasus di 37 pasar.

Baca Juga: Sejumlah Tokoh Inisiasi Gerakan Pakai Masker di Pasar Tradisional 

Sejumlah langkah kami apresiasi seperti menurunkan ASN untuk membantu terlibat dalam melakukan pendisiplinan protokol kesehatan di pasar tradisional.

"Ini adalah langkah dan upaya yang kami apresiasi. Karena pendekatan ASN dapat meningkatkan kedisipilnan pedagang dan yang terpenting adalah memberikan edukasi terhadap bahaya covid 19 dan berlangsungnya protokol kesehatan," katanya.[



Sumber: BeritaSatu.com