Tiongkok Siap Akhiri Perang Dagang Melawan AS

Tiongkok Siap Akhiri Perang Dagang Melawan AS
Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 4 Oktober 2018 | 15:24 WIB

Washington - Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat (AS), Cui Tiankai, menyatakan negaranya siap membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang melawan AS.

Menurut Cui, perang dagang antara Tiongkok dan AS dapat diselesaikan melalui itikad baik kedua pihak. Namun, Cui menyalahkan AS yang terus mengubah posisinya dan melewatkan kesempatan untuk bernegosiasi dan mencapai kesepakatan.

“Kami siap membuat beberapa kesepakatan. Tapi dalam perundingan terakhir, posisi AS tetap berubah sepanjang waktu, jadi kami tidak tahu pasti apa yang diinginkan AS sebagai prioritas,” kata Cui dalam wawancara khusus dengan National Public Radio (NPR) di Washington, Rabu (3/10).

Dia mengatakan, pemerintah Tiongkok ingin mengambil langkah terkait keluhan utama Trump yaitu mengurangi defisit perdagangan kedua negara. Tiongkok juga siap berkomitmen untuk mereformasi perekonomian, dimana perusahaan-perusahaan yang didukung negara sudah sering berkompetisi melawan saingan asing. Tapi dia menegaskan AS harus mengklairifkasi kemauannya.

“Lebih dari sekali dalam beberapa bulan terakhir. Kami memiliki beberapa kesepakatan tentatif antara dua tim kerja, lalu hanya dalam semalam, kesepakatan tentatif itu ditolak, dan permintaan dari AS berubah. Jadi ini sangat membingungkan,” ujar Cui.

Perang dagang AS dan Tiongkok dimulai saat Presiden AS Donald Trump mengeluarkan kebijakan untuk menaikan tarif impor baja dan aluminium dan sejumlah barang produksi Tiongkok, karena merasa dirugikan dengan kebijakan investasi bagi perusahaan asing yang diberlakukan Tiongkok. Tiongkok melakukan negosiasi perdagangan, dmembalasnya dengan kenaikan pajak untuk barang-barang AS.

Cui menambahkan, seperti diplomat lainnya, dia sudah berusaha menggunakan berbagai cara untuk memahami Trump secara lebih baik. Cui juga mendesak Gedung Putih agar tidak menindaklanjuti sebuah usulan untuk melarang para pelajar Tiongkok masuk ke universitas-universitas Amerika.

“Situasi itu (larangan bagi pelajar Tiongkok, Red) sangat berbahaya karena hubungan orang ke orang merupakan dasar dari pertemanan,” ujarnya.

Namun di sisi lain Cui menolak menjawab saat ditanyakan apakah Tiongkok juga akan mengizinkan keterbukaan lebih besar antara lain menerima lebih banyak wartawan atau sarjana ke wilayah-wilayahnya yang sensitif seperti kawasan Xinjiang, yaitu rumah dari mayoritas Muslim Uighur dan warga Buddha Tibet.



Sumber: Suara Pembaruan