Gedung Putih Dikabarkan Chaos

Gedung Putih Dikabarkan Chaos
Presiden AS Donald Trump ( Foto: AFP )
Jeanny Aipassa / JAI Senin, 15 Oktober 2018 | 13:24 WIB

Washington - Gedung Putih dikabarkan mengalami "chaos" seiring dengan mundurnya sejumlah pejabat tinggi dan orang-orang pilihan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Namun kabar tersebut langsung dibantah Trump dengan menyebut bahwa administrasinya akan "fenomenal".

Pernyataan itu, disampaikan Trump dalam wawancara dengan Kepala Biro USA Today, Susan Page, di Gedung Putih, Washington, AS, dalam acara “60 Minutes” yang ditayangkan CBSN, Minggu (14/10).

Dalam wawancara tersebut, Trump membantah bahwa dia merasa sedih dan kecewa dengan administrasinya yang digambarkan seperti mesin yang bekerja lambat. Trump juga membantah bahwa Gedung Putih dalam keadaan “chaos” setelah banyak orang yang dipilihnya memutuskan untuk mundur.

“Itu salah, itu sangat keliru, itu berita palsu. Ada ratusan orang di Gedung Putih, sebagian saya pilih, sebagian tidak, saya mengubah beberapa hal, termasuk mentalitas, semua untuk kinerja yang fenomenal, dan saya yakin kinerja (Gedung Putih, Red) akan fenomenal,” ujar Trump.

Saat ditanya apakah masih akan ada pejabat yang meninggalkan administrasinya, Trump mengatakan, hal itu bisa saja terjadi dan dia tak mempermasalahkan karena akan ada orang lain yang menggantikan mereka.

Susan kemudian menanyakan mengapa mengapa banyak orang yang dipilihnya justru meninggalkan kabinet pemerintahannya, dan Trump menjawab bahwa dia sebenarnya memiliki kabinet terbaik.

"Saya katakan kepada Anda, Saya pikir saya memiliki kabinet yang hebat. Ada beberapa orang yang mungkin tidak merasa bahagia dengan apa yang saya lakukan, tapi ada juga orang-orang yang tetap melakukan (tugasnya, Red), dan melaluinya," ujar Trump. 

Seperti diketahui, pekan lalu Trump menerima pengunduran diri Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, yang menjadi sorotan publik AS dan dunia. Banyak pihak menilai Trump ditinggalkan orang-orang terbaik yang dipilihnya, karena mereka tak lagi sejalan denga kebijakan Trump.



Sumber: Suara Pembaruan