Trump Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 dengan Rusia

Trump Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 dengan Rusia
Hulu ledak nuklir. ( Foto: NATO Review )
Heru Andriyanto / HA Minggu, 21 Oktober 2018 | 04:34 WIB

Nevada - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya akan membatalkan kesepakatan pembatasan senjata nuklir jarak menengah dengan Rusia yang ditandatangani pada 1987.

Dalam pernyataannya di Nevada, Sabtu (20/10) waktu setempat, Trump berkata: "Rusia sudah melanggar kesepakatan itu. Mereka telah melanggarnya selama bertahun-tahun dan saya tidak tahu kenapa Presiden (Barack) Obama tidak bernegosiasi atau menarik diri."

"Kami tidak akan membiarkan mereka melanggar kesepakatan dan membuat senjata (nuklir) sementara kami tidak diperbolehkan. Kami adalah pihak yang patuh pada perjanjian itu dan kami melaksanakannya, tetapi Rusia sayangnya belum mematuhinya, jadi kami akan membatalkan perjanjian itu, kami akan menarik diri," kata Trump usai menghadiri kampanye di Nevada.

Perjanjian yang akan dibatalkan itu bernama Intermediate-range Nuclear Forces (INF) Teaty.

Sebelumnya, penasihat masalah keamanan Trump, John Bolton, mendesak agar Trump menarik diri dari perjanjian INF karena Rusia tidak patuh pada larangan memproduksi senjata baru.

Bolton disebut-sebut juga menghalangi AS hadir dalam perundingan untuk memperpanjang kesepakatan lain dengan Rusia yang disebut New Start, yang ditandatangani pada 2010 dan akan habis masa berlakunya pada 2021.

Presiden Trump juga menyinggung Tiongkok dalam keputusannya membatalkan INF tersebut.

“Kecuali kalau Rusia datang ke kami, Tiongkok datang ke kami, mereka semua datang dan berkata, ‘Ayolah kita menjadi cerdas dan jangan sampai satu pun dari kita yang membuat senjata-senjata itu'," kata Trump.

“Namun, kalau Rusia tetap membuat (senjata nuklir) demikian juga Tiongkok, sementara kami patuh pada perjanjian, itu tidak bisa diterima. Kami punya banyak uang untuk dipakai oleh militer kami."

“Rusia belum patuh pada perjanjian itu, jadi kami akan membatalkannya dan kami juga akan mengembangkan senjata. Kalau kami bersikap cerdas, dan yang lain juga sama, lalu berkata 'ayo jangan buat lagi senjata nuklir mengerikan', maka saya akan sangat bahagia."

“Namun, kalau ada yang melanggar perjanjian, maka kami tidak mau menjadi satu-satunya yang patuh pada perjanjian."



Sumber: The Guardian