Pemecatan Jaksa Agung AS Terkait Skandal Rusia

Pemecatan Jaksa Agung AS Terkait Skandal Rusia
Jeff Sessions ( Foto: Istimewa )
Jeanny Aipassa / JAI Kamis, 8 November 2018 | 13:08 WIB

Washington - Pemecatan Jaksa Agung Amerika Serikat (AS), Jeff Session, diduga terkait dengan penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap dugaan interfensi Rusia dalam pemilihaan presiden (Pilpres) 2016 untuk memenangkan kubu Donald Trump.

Pengumuman Trump tentang pemecatan Sessions, sehari setelah pemilihan umum (pemilu) sela, dianggap tidak mengejutkan. Pasalnya, prediksi tentang pemecatan Sessions telah muncul setahun terakhir, ketika dia menolak permintaan Trump untuk mengawasi penyelidikan penyidik khusus Robert Mueller terkait dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres 2016. 

Sessions menolak permintaan Trump, dan malah memberikan kuasa kepada wakilnya, Rod Rosenstein, untuk mengawasi penyelidikan tersebut, sehingga membuat Trump kehilangan kendali.

Pada Oktober 2018, isu pemecatan Sessions semakin menguat, ketika Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nikki Haley, mengumumkan pengunduran diri. Saat itu, Sessions diprediksi menjadi pejabat yang akan didepak Trump selanjutnya, karena berseberangan terkait penyelidikan Mueller dan Rosenstein.

Sumber Gedung Putih mengatakan, Trump sudah lama berseberangan dengan Sessions, meskipun hampir semua agenda kebijakan Trump dilaksanakan Mattis, termasuk mengenai kebijakan imigrasi.

Ketidaksukaan Trump itu, ditunjukkan lewat perintah pengunduran diri yang disampaikan Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly, kepada Sessions, bukan oleh Trump. 

"Trump tidak memecat langsung Sessions, tetapi memintanya mengajukan surat pengunduran diri. Permintaan pengunduran diri tersebut disampaikan pada Rabu pagi, oleh Kelly, bukan dari presiden langsung,” kata sumber yang menolak disebut identitasnya.

Menurut sumber itu, Sessions telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Kelly, tak lama setelah itu. “Atas permintaan Anda, saya mengajukan pengundurann diri,” tulis Sessions dalam surat kepada Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly.

Sumber itu juga mengatakan bahwa Matthew G. Whitaker yang ditunjuk sebagai pengganti Sessions merupakan staf yang mendukung Trump dan mengkritik penyelidikan Mueller dan Rosenstein terkait intervensi Rusia di Pilpres AS 2016.



Sumber: Suara Pembaruan