Kisah Muslimah Pertama yang Jadi Anggota Kongres AS

Kisah Muslimah Pertama yang Jadi Anggota Kongres AS
Anggota DPR Amerika Serikat terpilih Ilhan Omar (tengah) berjalan di halaman US Capitol di Washington DC, 4 Januari 2019. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Minggu, 6 Januari 2019 | 14:43 WIB

Washington - Pada malam menelang pelantikan sebagai anggota Kongres pekan lalu, anggota DPR terpilih dari Minnesota, Ilhan Omar, mendarat di Bandara Washington DC, tempat yang sama ketika dia pertama kali tiba di Amerika Serikat sebagai pengungsi dulu.

"Duapuluh tiga tahun yang lalu, dari sebuah kamp pengungsi di Kenya, ayah dan saya tiba di sebuah bandara di Washington DC," bunyi cuitan Twitter Omar, anggota Partai Demokrat Minnesota yang mengukir sejarah sebagai salah satu muslimah pertama menjadi anggota Kongres AS.

"Hari ini, kami kembali ke bandara yang sama di malam pengambilan sumpah saya sebagai warga Somalia-Amerika pertama di Kongres."

Pelantikan para anggota Kongres dilakukan Kamis (3/1) lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, dia mengungkapkan momen di bandara itu sangat emosional.

"Ketika kami keluar dari pesawat, kami sadar bahwa ayah dan saya belum pernah lagi ke bandara itu sejak pertama kali kami mendarat di sini sebagai pengungsi," ujarnya.

"Ini waktu yang sangat menyetuh dan emosional bagi kami," kata Omar.

"Saya tidak mengira ini -- ayah saya pernah mengatakan dia punya harapan tinggi untuk kami, soal kesempatan yang kami dapat ketika datang ke negara ini. Namun, saya tidak menduga dia akan membayangkan bahwa pada suatu hari nanti putrinya akan menuju Kongres hanya 20 tahun setelah kami tiba di sini."

Selain Omar, anggota Partai Demokrat dari Michigan, Rashida Tlaib, juga menjadi muslimah yang terpilih anggota DPR.

Kehadiran Omar dan Tlaib di Kongres juga menciptakan sejarah baru. Tepat sebelum pelantikan, Kongres untuk pertama kali dalam 181 tahun mengesahkan aturan yang mengizinkan dipakainya penutup kepala untuk kepentingan relijius di ruang parlemen.

Omar merupakan salah satu tokoh pendorong aturan itu, yang memungkinkan dia mengenakan hijab di ruang parlemen.

Aturan ini disahkan dengan suara 234 berbanding 197.

Larangan memakai penutup kepala sudah diterapkan sejak 1837. Ketika itu, para pria di Kongres (belum ada politisi perempuan) dilarang memakai topi karena alasan kesopanan saja. Aturan ditegakkan berbarengan dengan hal-hal lain terkait perilaku anggota Kongres karena mereka sering mengunyah tembakau, meludah, merokok cerutu, membawa senjata, menyeruput miras, atau menaruh kaki di atas meja di ruang Kongres.

Debat soal ini berbeda pekan lalu. Pengusulnya adalah Nancy Pelosi, Jim McGovern, dan Omar.

Memakai topi atau penutup kepala lainnya tetap dilarang kecuali untuk alasan relijius.

Bunyi perubahan aturan sebagai berikut:

“Selama sesi di DPR, seorang Anggota, Delegasi, atau Komisoner Residen tidak boleh mengenakan penutup kepala non-relijius, atau topi selama pemanggilan nama absensi atau penghitungan suara. Setiap orang yang berada di lantai DPR tidak boleh merokok atau menggunakan perangkat elektronik yang bisa mengganggu ketertiban."

Selain itu, pengambilan sumpah juga dilakukan dengan Alquran, sebuah peristiwa yang cukup langka di Kongres AS.

Pengambilan sumpah Ilhan Omar sebagai anggota DPR Amerika Serikat dengan menggunakan Alquran di US Caoitol, 3 Januari 2019. (AFP)



Sumber: Washington Post, CNN