Trump Ngotot Bangun Tembok Perbatasan $ 5,7M

Trump Ngotot Bangun Tembok Perbatasan $ 5,7M
Presiden Donald Trump memeriksa prototipe dinding pembatas di San Diego pada 13 Maret 2018. ( Foto: AFP via Getty Images / Mandel Ngan )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 9 Januari 2019 | 17:34 WIB

Washington DC - President Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di waktu tayang utama Selasa (8/1) waktu setempar untuk menegaskan tekadnya membangun dinding baja di sepanjang perbatasan dengan Meksiko yang menurutnya akan menghentikan tumpahnya "darah Amerika" di tangan imigran gelap.

Pidato sembilan menit dari Ruang Oval Gedung Putih itu tidak menyebutkan konsesi terhadap Partai Demokrat yang menolak dinding perbatasan -- proyek yang dijadikan Trump sebagai bendera politik dalam negerinya.

Pidato itu juga tidak memberi harapan bagi diakhirinya government shutdown yang membuat 800.000 pekerja federal tidak dibayar.

Namun, tidak seperti prediksi banyak orang, Trump menghindari penetapan status darurat nasional yang bisa memberinya kewenangan mewujudkan proyek tembok perbatasan itu tanpa persetujuan Kongres -- yang bisa memicu krisis politik lebih dalam lagi.

Tidak seperti biasanya, Trump bicara dengan suara yang tertata, tampaknya ingin menunjukkan bahwa moralnya sedang tinggi, dan mengatakan dia ingin menjembatani sengketa politik di masa kepemimpinannya yang sedang goyah sekarang.

"Saya sudah mengundang para pemimpin Kongres ke Gedung Putih untuk menyelesaikan ini. Semoga kita bisa lepas dari politik bipartisan demi mendukung keamanan nasional," kata Trump.

"Situasi ini bisa diselesaikan dalam pertemuan 45 menit."

Meskipun nadanya lebih lunak, Trump juga menggunakan pidatonya untuk mengulangi pernyataan kontroversial -- yang populer di basis sayap kanan -- bahwa imigran gelap di perbatasan AS-Amerika adalah ancaman bagi kehidupan warga Amerika.

Dia menunjukkan daftar contoh pidana mengerikan yang dilakukan imigran gelap, termasuk "pemenggalan dan mutilasi", dan mengatakan "tidak akan pernah melupakan kepedihan" para penyintas yang telah ditemuinya.

"Berapa banyak lagi darah Amerika yang harus tertumpah sebelum Kongres melakukan tugasnya? Bagi mereka yang menolak kompromi demi keamanan perbatasan, saya minta untuk membayangkan kalau ini adalah anak Anda, suami Anda, istri Anda yang hidupnya dihancurkan secara kejam dan betul-betul rusak," ujarnya.

Bagi lawannya, pernyataan itu seperti jualan rasa takut untuk kepentingan politik, atau yang paling buruk -- sikap rasis.

Ketua DPR dari Partai Demokrat, Nancy Pelosi, segera menanggapi bahwa masalah sebenarnya adalah kebijakan-kebijakan yang kejam dan kontra-produktif dari Trump sendiri, yang membuat perbatasan menjadi lebih berbahaya bagi imigran yang rentan termasuk para keluarga muda.

Government Shutdown Berlanjut
Media setempat melakukan pengecekan fakta atas sejumlah pernyataan Trump, misalnya bahwa setiap hari para petugas perbatasan AS-Meksiko "berhadapan dengan ribuan imigran gelap yang berusaha masuk negara kita". Jumlah itu dibesar-besarkan, tulis CNN dan The New York Times.

Selain itu, juga terbukti salah klaim Trump bahwa 90 persen heroin yang masuk perbatasan AS datang dari Meksiko, dan bahwa Meksiko akan membayar biaya tembok perbtaasan secara tidak langsung lewat perjanjian dagang yang baru dengan AS dan Kanada.

Pidato ini tidak menawarkan solusi atas government shutdown yang telah dimulai 18 hari lalu, awalnya sebagai taktik negosiasi tetapi telah berubah menjadi simbol disfungsi dalam politik di Washington, serta makin menyakitkan bagi para pekerja yang tidak digaji.

Gaji banyak pegawai ditahan ketika Trump menolak menandatangani RUU belanja pemerintah sebagai cara membujuk Demokrat agar setuju pembiayaan temboknya.

Pelosi menuduh Trump "menjadikan rakyat Amerika sebagai sandera".

Historis
Ruang Oval Gedung Putih telah menjadi saksi banyak pernyataan historis, mulai dari reaksi George W Bush atas serangan 11 Sept. 2001, sampai kemunculan John F Kennedy di tengah krisis rudal Kuba.

Bagi Trump, tembok perbatasan adalah kampanye yang memberinya kemenangan dalam pilpres 2016.

Usai pidatonya, dia akan mendatangi perbatasan AS-Meksiko Kamis (10/1) besok.

Ketua Senat Mitch McConnell dari Partai Republik menyambut baik pidato itu dan mengatakan Trump "telah menegaskan komitmennya untuk mengatasi krisis kemanusiaan dan keamanan negara kita di perbatasan selatan."



Sumber: AFP
CLOSE