Dilantik Kedua kali, Presiden Maduro Janji Teruskan Warisan Chavez

Dilantik Kedua kali, Presiden Maduro Janji Teruskan Warisan Chavez
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah), berjabat tangan dengan Presiden Mahkamah Agung Maikel Moreno ketika selempang kepresidenannya disematkan, setelah ia mengambil sumpah jabatan di Caracas, Venezuela, Kamis (10/1). ( Foto: AP / Ariana Cubillos )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 12 Januari 2019 | 08:38 WIB

Caracas- Nicolas Maduro dilantik sebagai Presiden Venezuela untuk masa jabatan yang kedua, Kamis (10/1). Dia  berjanji untuk meneruskan warisan dari mantan presiden Hugo Chavez dan menyalahkan Amerika Serikat (AS) sebagai pemicu kerusuhan dengan peningkatan sanksi-sanksi ekonomi.

“Venezuela adalah pusat perang dunia dipimpin oleh imperialis Amerika Utara dan para sekutunya. Mereka berusaha mengubah pelantikan normal menjadi perang dunia,” kata Maduro yang merupakan bekas supir bis.

Masa jabatan kedua Maduro memperluas revolusi sosialis Venezuela di tenah keluhan yang meluas bahwa dia melucuti negaranya dari sisa-sisa demokrasi. Maduro membantah dirinya sebagai diktator, serta menyalahkan Presiden AS Donald Trump karena memimpin perang ekonomi melawan Venezuela dan menghancurkan negaranya.

Sebelumnya, Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) memilih untuk tidak mengakui legitimasi periode kedua Maduro. Mereka mengadopsi resolusi yangn disampaikan Kolombia, Argentina, Brasil, Cile, Kosta Rika, AS, Paraguay, dan Peru. Langkah itu dikecam oleh Duta Besar Venezuela untuk OAS, Samuel Moncada, sebagai aksi permusuhan melawan kehendak negara.

Gerakan oposisi Venezuela gagal melawan dominansi partai sosialis. Pemerintah Maduro telah memenjarakan atau mengusir para pemimpinnya yang populer.

Pada Mei 2017, Maduro mengumumkan kemenangan lewat pemilihan presiden, namun klaimnya itu dimentahkan oleh para lawan politiknya dan banyak negara asing. Pasalnya, sejumlah lawan politik yang populer dihambat untuk maju pemilihan termasuk partai terbesar yang anti-pemerintah juga telah diboikot.



Sumber: Suara Pembaruan