Oposisi Venezuela Rebut Properti Diplomatik di AS

Oposisi Venezuela Rebut Properti Diplomatik di AS
Juan Guaido (kiri) dan Nicolas Maduro (kanan) ( Foto: AFP / Federico PARRA )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 19 Maret 2019 | 12:04 WIB

Washington,beritasatu.com- Perwakilan pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido telah mengambil alih penguasaan tiga properti diplomatik negara itu di Amerika Serikat (AS). Pada Senin (18/3), utusan Guaido di AS Carlos Vecchio mengatakan oposisi terus mendesak Presiden sosialis Nicolas Maduro untuk mundur.

Seperti dilaporkan Reuters, Carlos Vecchio, mengatakan oposisi telah menguasai dua gedung milik kementerian pertahanan Venezuela di Washington dan satu gedung konsuler di New York. Dia menambahkan bahwa kelompok oposisi berharap untuk mengambil kendali kedutaan Venezuela di Washington dalam waktu dekat.

Langkah penguasaan properti itu diambil setelah Guaido, presiden Majelis Nasional yang dikontrol oposisi, meminta konstitusi untuk menjadi presiden sementara pada bulan Januari. Guaido beralasan bahwa pemilihan kembali Maduro pada Mei 2018 tidak sah. Dia telah diakui sebagai pemimpin sah Venezuela oleh sebagian besar negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.

“Kami mengambil langkah-langkah ini untuk melestarikan aset Venezuela di negara ini," kata Vecchio dari salah satu bangunan, kantor atase militer Venezuela ke Washington, setelah mencopot foto Maduro dari tembok dan menggantinya dengan foto Guaido.

Menurut Vecchio, dari 55 anggota staf, 12 orang memutuskan untuk tetap di Amerika Serikat dan mendukung Guaido. Dia menambahkan bahwa stafnya akan bekerja di luar gedung atase, yang terletak di lingkungan kelas atas Kalorama. Berdasarkan catatan properti Washington, properti ini memiliki nilai aset US$ 2,2 juta.

Vecchio berbicara bersama Kolonel Jose Luis Silva, atase militer Venezuela kepada Washington yang mengakui Guaido pada 27 Januari. Beberapa anggota militer tingkat tinggi lainnya telah mengindahkan seruan Guaido untuk memutuskan hubungan dengan Maduro, yang mempertahankan dukungan angkatan bersenjata dan mengendalikan fungsi negara



Sumber: Suara Pembaruan