Rusia-AS Bahas Krisis Venezuela di Roma

Rusia-AS Bahas Krisis Venezuela di Roma
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, dilaporkan berkunjung ke Roma, Italia, untuk mengadakan pertemuan dengan utusan Amerika Serikat terkait krisis Venezuela, pada 18-19 Maret. ( Foto: Istimewa )
Jeanny Aipassa / JAI Selasa, 19 Maret 2019 | 14:17 WIB

Roma, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) dan Rusia mengadakan pertemuan di Roma, Italia, Senin (18/3/2019), untuk membahas penyelesaian krisis Venezuela.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengindikasikan pembicaraan akan difokuskan pada masalah kemanusiaan yang terjadi akibat krisis, bukan pada persoalan politik apalagi pergantian pemerintahan.

Menurut Sergei Ryabkov,pihaknya akan menegaskan bahwa upaya untuk menekan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya tidak akan menyelesaikan krisis Venezuela.

Segala bentuk sanksi bahkan desakan untuk menggunakan kekuatan militer yang dilakukan AS, merupakan bentuk intervensi terhadap pemerintah Venezuela yang sah dan hal itu bertentangan dengan hukum internasional.

“Pemerintah Rusia akan menegaskan posisinya bahwa intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela tidak dapat diterima,” kata Sergei Ryabkov seperti dikutip kantor berita Rusia, Interfax.

Sergei Ryabkov mengakui, posisi Rusia dengan AS bertentangan soal Venezuela, namun hal itu tidak akan menghalangi perundingan antarkedua negara adikuasa tersebut. Rusia akan fokus pada penyelesaian masalah kemanusiaan yang semakin memprihatinkan di Venezuela.

“Posisi Rusia dan Amerika dalam soal ini sangat bertentangan, tapi itu bukan alasan untuk tidak berunding,” ujar Sergei Ryabkov.

Sergei Ryabkov mengungkapkan, Pemerintah Rusia telah mengirim pasokan makanan dan obat-obatan ke Venezuela untuk membantu negara itu menghindari sanksi-sanksi Amerika. Rusia juga akan terus bekerjasama dengan Venezuela dalam sejumlah sektor, termasuk energi dan militer, walaupun ditentang oleh AS.

Seperti diketahui, AS dan 50 negara lainnya telah mengakui tokoh oposisi, Juan Guaido, sebagai presiden sementara Venezuela. Sebagai bentuk dukungan terhadap oposisi, AS menjatuhkan sanksi ekonomi baru kepada pemerintahan Nicolas Maduro, yang membuat negara itu makin terpuruk dalam krisis ekonomi dan politik.

Moskwa dan sejumlah negara lain mengatakan, sanksi-sanksi yang dijatuhkan AS atas Venezuela hanya merugikan rakyat di negara itu. Namun, utusan khusus AS untuk Krisis Venezuela, Elliot Abrams, mengatakan sanksi-sanksi Amerika itu hanya bersifat sementara.

“Tuduhan bahwa Juan Guaido adalah boneka Amerika Serikat adalah konyol, dan telah dibuktikan dalam berbagai cara. Salah satunya adalah kenyataan bahwa sejumlah negara lain juga mendukungnya,” kata Elliot Abrams, yang bertemu dengan Sergei Ryabkov.



Sumber: AFP/Reuters/Suara Pembaruan